| 0 comments ]


Sejak menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia, 1 Juni 2010, suara Sri Mulyani Indrawati nyaris tak terdengar di ranah publik Indonesia. Beruntung, di sela-sela agenda kerjanya yang padat, dia bersedia menerima Bisnis di kantornya, lantai 12 World Bank Main Complex Building, 1818 H Street, NW, Washington DC, AS, Rabu, 13 Oktober 2010.

Dia bicara tentang berbagai hal, mulai dari tantangan ekonomi global sampai perasaannya berada pada posisi penting di sebuah organisasi bergengsi. Namun dia menolak membahas politik di Tanah Air maupun kasus Bank Century. Berikut petikan dialog itu:

Bisa ceritakan kesibukan Anda sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia?

Terakhir ini, sidang tahunan Bank Dunia. Seperti Anda tahu, 2008-2009 ada krisis global yang memberi pelajaran berharga bagi seluruh dunia. Pelajaran bagi negara maju, dalam hal regulasi keuangan, supervisi keuangan, dan bagaimana mereka harus merekonstruksi lagi sistem keuangan mereka.

Secara global, ini dibahas di G-20, sidang tahunan IMF dan Bank Dunia. Yang paling penting, dengan adanya krisis keuangan global itu diperkirakan 84 juta orang akan terpengaruh, berada di bawah garis kemiskinan. Dan itu berarti job and task Bank Dunia, karena kita bertujuan menciptakan dunia tanpa kemiskinan. Setback seperti itu akan memberikan tantangan yang makin besar.

Selama 3 tahun, 2008-2010, Bank Dunia menaikkan jumlah bantuannya ke banyak negara karena permintaan begitu besar. Semuanya ingin melakukan kebijakan countercyclical. Pada saat ekonominya menurun pemerintah harus berbuat banyak untuk bisa menahan penurunan ekonomi sehingga tidak makin buruk, atau kalau lebih bagus lagi, bisa recover secara cepat.

Nah, caranya adalah dengan kombinasi pemerintah harus belanja lebih. Biasanya untuk infrastruktur, social safety net, dan juga untuk memperbaiki policy, memperbaiki birokrasi, dan governance supaya mereka bisa resilient [bertahan]. Dan ternyata hal itu cukup efektif.

Kalau kita lihat, kontraksi ekonomi banyak negara miskin dan berpendapatan menengah selama 2008-2009, terutama 2009 setelah krisis dan semester I/2010, menunjukkan resiliency. Mereka memang turun [ekonominya], tetapi turunnya tidak sedalam negara-negara maju dan pemulihannya sangat cepat di semester I/2010.

Jadi, itu menggambarkan banyak negara berkembang sekarang sudah lebih pandai, lebih ahli, lebih bisa bereaksi secara baik saat krisis melanda dunia dan juga bahwa kebijakan ekonominya ternyata cukup baik. Dibandingkan dengan 1980-1990, siklus krisis itu terjadi.

Saya baru kembali dari Amerika Latin, seminggu sebelum sidang tahunan Bank Dunia, ke Meksiko, Kolombia, Peru, dan negara-negara Amerika Latin. Pada 1980-1990 negara-negara itu selalu dalam siklus krisis: krisis perbankan, krisis nilai tukar, krisis fiskal, yang terjadi terus menerus.

Sekarang, amazingly, dengan shock yang begitu besar pada 2008 negara-negara Amerika Latin relatively masih bisa menjaga ekonominya, baik makronya, pertumbuhannya, kontraksinya sangat terbatas, bahkan sekarang pulih sangat cepat. Inflasinya juga luar biasa bisa dijaga rendah, nilai tukarnya bahkan sekarang makin menguat, serta perdagangan dan investasinya mulai membaik lagi.

Ini menggambarkan perkembangan sangat bagus. Banyak negara middle income, developing countries, low income countries di Afrika berkembang dengan baik.

Di dalam proses ini, Bank Dunia selama 2 tahun ini melakukan banyak sekali dukungan kepada semua negara. Karena selama mereka melakukan countercyclical, nggak semua negara memiliki sumber dana, apalagi waktu itu pasar kolaps.

Artinya, yang traditionally seperti Meksiko, Brasil, mereka bisa masuk ke pasar menjual obligasi untuk membiayai defisit, pasarnya shut-down atau likuiditas tidak ada. Dan mereka semuanya meminta pinjaman untuk bisa memperbaiki atau melakukan countercyclical secara tepat waktu, karena kalau lambat, ekonominya sudah terlanjur crash.

Jadi Bank Dunia dalam 2 tahun ini menaikkan operasionalnya hingga 3 kali lipat. Permintaan di mana-mana, seluruh negara berkembang di dunia, dan hasilnya bagus. Anda lihat ceritanya di sidang tahunan ini, everybody will talk about the developing country is more resilient. They are now an engine of growth...cerita-cerita bahwa negara berkembang sekarang sudah bisa bertahan dari krisis, bahkan menjadi penyangga dari ekonomi dunia, dan baik hasilnya.

Perbedaan apa yang Anda rasakan antara mengelola institusi keuangan sebesar Bank Dunia dengan mengelola Kementerian Keuangan RI?

Kalau besarnya, lebih besar Kementerian Keuangan. Bank Dunia punya sekitar 10.000-11.000 [staf], sedangkan Kemenkeu 64.000 pegawai. So it's much bigger, kalau orangnya ya. Kalau dari sisi kompleksitasnya, juga Indonesia is very complicated. Bank Dunia is another complicated karena dijalankan dengan luas. Jadi perbandingannya adalah mungkin dari sisi yang menarik-karena sekarang dalam posisi manajemen-bisa lihat perbandingannya antarnegara.

Tema Bank Dunia sekarang adalah ingin menjadi a global knowledge bank. Bahkan dengan open data, open access, open solution, jadi teman-teman di Indonesia seperti Anda tidak perlu susah-susah, free untuk akses banyak informasi dari Bank Dunia. Yang dulu banyak tidak dibuka, sekarang dibuka.

Jadi Bank Dunia ini berubahnya luar biasa banyak. Ini kan bank miliknya dunia, karena yang punya 187 negara, jadi kalau masih ada orang yang mengatakan ini yang punya segelintir, apalagi cuma Amerika Serikat, rasanya sudah tidak begitu. Kalau mau lebih kritis untuk lihat dari dalam. Posisi pemegang saham makin seimbang, bahkan kalau dilihat di internalnya, Presiden Bank Dunia Robert Zoellick menunjuk 3 direktur pelaksana semuanya dari negara berkembang. Manajamen, dalam hal ini interaksi kita, antarkita sendiri, dan dengan komposisi Dewan Eksekutif, artinya direktur eksekutif yang pak Hekinus Manao [Irjen Kemenkeu] nanti akan menjadi wakilnya Indonesia dan 12 negara lain, akan mengawasi kita cara beroperasi.

Tapi yang mengawasi kita tidak cuma Dewan Eksekutif. Yang mengawasi adalah seluruh dunia sebagai pemilik saham. 187 negara. Rakyatnya, medianya, karena mereka punya akses. Oleh karena itu, kompleksitasnya adalah kita harus accountable. Kita professional, kita harus punya kepastian dalam operasional, perbaikan kita dalam hubungan dengan klien harus makin baik dan negara berkembang termasuk Indonesia itu suaranya sangat didengar di sini.

Kalau kita berkontribusi, ikut dalam pembentukan strategi dan kebijakannya, Indonesia bisa bersuara, makanya penting untuk punya wakil-wakil yang baik. Di dalam forum-forum regional, global, karena suara kita sangat disegani, karena kita punya size negara yang cukup besar dan punya kompleksitas yang begitu banyak.

Jadi kalau kita lihat, saya rasa tantangannya adalah bagaimana membuat Bank Dunia sekarang makin bisa berbuat efektif untuk membantu banyak negara low income, middle income. Sekarang ini, dengan middle income yang begitu banyak ragam. Amerika Latin lagi booming, Timur Tengah punya tantangan maupun kesempatan luar biasa, Eropa Timur punya persoalan sesudah krisis, Asia Selatan seperti India, Pakistan...Asia Timur yang begitu dinamis luar biasa.

Bank Dunia beroperasi beda dengan bank pembangunan regional yang fokus pada kawasannya. Kita beroperasi di seluruh dunia. Bagaimana membuat kita posisinya sangat bisa membantu sehingga negara-negara mitra yang memanfaatkan kita bisa ambil manfaatnya.

Umpamanya Indonesia mau belajar tentang apa yang berhasil di Brasil, atau apa yang tidak berhasil, karena kalau Anda mau bicara tentang pembangunan, segala macam. Bangun irigasi, sekolah, kesehatan, listrik, infrastruktur, perbaiki situasi tenaga kerja, mengurangi pengangguran... itu dirasakan oleh seluruh dunia.

Bisa tukar pikiran, oh ada negara sudah bikin kebijakan seperti ini tidak jalan tuh, itu kan bisa kita pelajari supaya bisa kita hindari juga. Jadi kompleksitasnya, tantangannya sangat menarik, sangat banyak.

Saya rasa sebagai bagian dari manajemen sekarang sangat banyak yang harus ditata dan sangat menantang secara intelektual, secara akademik, secara skill. Orang seperti saya dengan pengalaman di Indonesia yang begitu banyak, saya bisa banyak sekali aktif di sini melakukan banyak sekali engagement dan banyak gunanya untuk Bank Dunia belajar dari apa yang terjadi di Indonesia.

Bagaimana cara Anda mentransfer pengalaman dan keberhasilan mereformasi tubuh Kementerian Keuangan kepada Bank Dunia agar governance-nya lebih menyuarakan negara berkembang?

Reformasi internal Bank Dunia, komposisinya, yaitu peranan negara berkembang sudah semakin seimbang dan sebetulnya kadang-kadang seperti Indonesia yang sahamnya di bawah 1% pun bisa bersuara luar biasa keras dan mempengaruhi kalau kita bisa menyampaikan argumen yang masuk akal.

Artinya Indonesia itu, pengalaman pembangunannya luar biasa. Saya tidak pernah merasa bahwa saya, karena sahamnya di bawah 1% terus saya tidak bisa ikut ngomong. Enggak tuh. Pengalaman saya di sini luar biasa, bahwa kalau Anda mau bicara tentang reformasi pajak, mungkin suara saya jauh lebih berbobot daripada AS yang sahamnya sekitar 16%, karena mereka tidak melakukannya. Atau mereka mungkin sudah melakukan dulu dan mungkin tidak cocok dengan situasi yang dihadapi Bank Dunia.

Kalau kita bicara tentang public private partnership, kita banyak memecahkan masalah yang kita hadapi. Jadi saya akan mengatakan bahwa peranan saya adalah memberikan bobot, akselerasi, menciptakan respek, dan negara berkembang juga harus punya bobot dan rasa percaya diri yang cukup untuk menjalankan.

Kan kita sepertinya minta supaya suara kita makin besar, peranan besar. Jangan lupa, kalau minta voice dan peranan besar itu tanggung jawab juga besar. Jangan cuma suara asal jeplak terus tidak bertanggung jawab. Kan tidak begitu. Di dunia ini, cara bergaulnya kan, kalau Anda bersuara keras, Anda bertanggung jawab.

Apalagi kalau Anda sekarang berperan untuk menetapkan kebijakan. Nah ini yang disebut sebagai suatu keseimbangan. Bank Dunia secara internal memahami ini. Sehingga secara internal, reformasi adalah untuk membentuk itu. Misalnya cara kita beroperasi, bagaimana supaya dengan klien bicara tentang hasil.

Jadi kalau ada setiap uang yang dipinjam, menghasilkan. Governance-nya harus sangat jelas. Prosesnya harus transparan. Bahkan kita konsultasi dengan penduduk asli, orang-orang dari suku lokal, dll. Cara kita berkonsultasi pun diawasi. Cara kita mencapai suatu keputusan, procurement menjadi persoalan yang sangat penting. Jadi semua aspek.

Artinya, mungkin berbeda dengan era 1970-an di mana orang waktu itu menganggap Bank Dunia seperti black box, nggak ketahuan. Ini sebenarnya institusi yang sangat transparan. Bank Dunia is open, transparan, dimiliki oleh 187 negara, kita semua kontribusi untuk membuatnya baik, dan saya rasa dibutuhkan oleh banyak negara untuk bisa menjadi makin efektif.

Jadi saya rasa peranan saya, dan karena saya mewakili Indonesia, bobotnya menjadi lebih penting karena kita sebagai dutanya Indonesia, orang akan lihat Indonesia itu seperti apa, what kind of people in Indonesia. Oh contohnya Sri Mulyani, moga-moga tidak malu-maluin, gitu kan. Artinya, oh that means di Indonesia ada orang bisa bekerja profesional, kita bisa at par [setara], bicara tidak merasa minder atau tidak merasa lebih hebat.

Kita bisa menjelaskan tentang masalah yang dihadapi. Dunia semuanya menghadapi masalah. Bukan persoalan, oh dia hebat karena tidak ada masalah. No. We are sharing a lot of problems. Yang membuat orang hormat terhadap kemampuan kita adalah karena kita bisa bicara secara dewasa. Ada sejumlah peluang untuk sukses, ada yang mungkin akan sangat sulit sekali, dan kesulitan ini bisa diatasi kalau kita tukar pikiran dengan pengalaman yang lain.

Respek itu harus ditegakkan. Buat saya itu adalah suatu misi dan beban karena dalam posisi di top management, orang akan melihatnya sangat mudah. Kalau kita jelek ya langsung kelihatan jelek semua, kalau kita baik oh berarti Indonesia juga dianggap cukup baik. Jadi, I hope saya bisa menggambarkan Indonesia yang baik sehingga reputasi negara kita makin hari makin disegani.

Ketegangan kurs kian memanas dan menjadi bahasan Sidang Tahunan IMF-Bank Dunia. Seberapa besar dampak yang mungkin timbul terhadap negara berkembang dan bagaimana respons kebijakan yang mesti diambil?

Sebenarnya kalau lihat dari ekonomi dunia, yang disebut imbalances itu sudah diidentifikasi cukup lama. Komposisi dari ekonomi global ini tidak sustainable, karena tidak seimbang. Pertumbuhan yang terjadi sebelum krisis 2008 itu berasal dari demand yang berasal dari Amerika Serikat.

Amerika menjadi lokomotif ekonomi dunia dengan meminta, mengkonsumsi begitu banyak barang dan jasa dari seluruh dunia. Dan ini dijadikan ladang pasar, China ke sini [AS], Amerika Latin ke sini, Eropa dan Asia lainnya ke sini. Tapi there is no free lunch. Anda konsumsi, you have to pay it from somewhere else.

Dari mana masyarakat dan pemerintah AS bisa mengkonsumsi begitu banyak? Kan dia harus membayar. Itu bukan gratis. Beli mobil dari seluruh dunia, beli baju, segala macam. Nah yang terjadi adalah rumah tangga [AS] mengkonsumsi terlalu banyak. Konsumsi pemerintah terlalu banyak. Berarti mereka tidak melakukan saving, bahkan de-saving. Artinya, kalau besar pasak daripada tiang terus menerus, suatu saat akan terjadi...

Jadi, Amerika melakukan adjustment. Dia harus konsolidasi. Harus mengakumulasi saving yang lebih, mengurangi konsumsi, memperbaiki posisi fiskal pemerintahnya. Dampaknya, kalau konsumsi atau permintaan AS lebih sedikit, dunia kan tidak ada tempat...Itu produksi dan investasi kan harus dijual, bukan untuk mainan.

Nah, sekarang siapa yang harus menggantikan Amerika? Yang harus menggantikan, yang paling dilihat sebagai kawasan paling vibrant, adalah Asia. China, India, negara-negara Asia Timur dan juga sedikit banyak Amerika Latin. Jadi kalau ketidakseimbangan global ini harus dibuat imbang, supaya dunia itu lebih stabil dan sustainable, dari sisi pertumbuhannya, tujuan pembangunannya, maka setiap negara harus adjust, harus berubah.

Nah adjustment ini salah satunya dapat terjadi kalau nilai tukarnya juga fleksibel. Karena ini seperti mesin. Kalau Anda naik mobil, kalau tidak punya penyerap goncangan, kalau ada goncangan kan terasa sekali.

Di dalam mesin, ada shock absorber. Di dalam perekonomian, shock absorber itu adalah harga. Harga itu yang ber-adjust agar kemudian alokasi resource-nya akan adjust sesuai dengan mekanisme harga. Kalau harganya tidak adjust, maka alokasinya tidak akan adjust terus, sehingga ketidakseimbangan akan terus terjadi. Itu salah satu faktor.. karena tidak hanya itu.

Nilai tukar hanya satu faktor. Kalau dia bisa adjust, dia kemudian bisa mendorong terjadinya adjustment terhadap alokasi resource. Asia harus konsumsi lebih, maka permintaan domestiknya harus naik, itu berarti kalau di China mereka harus konsumsi untuk kesehatan, memperbaiki pendidikan, kesehatan rakyatnya, dia sudah membangun infrastruktur begitu banyak, sekarang dia harus melakukan lebih banyak untuk membuat rumah tangganya, masyarakatnya menjadi lebih bisa menikmati pendapatannya.

Jadi jangan hanya bekerja tapi duitnya di-save terus, kemudian saving-nya lari ke Amerika. Amerika meminjam saving-nya China, terus dipakai untuk konsumsinya dia. Itu tidak sustainable, ini yang terjadi dan kemudian menimbulkan imbalances. Jadi kalau debat mengenai tensi nilai tukar..belum sampai war, sih.

Retorikanya kalau headline sudah seperti kayak war, tapi sebenarnya lebih kepada ketegangan. Ketegangan kurs ini hanya menggambarkan bahwa proses penyesuaian is happening. Dan harus terjadi. Para pembuat kebijakan, forum-forum seperti sidang tahunan IMF-Bank Dunia ini, tempat mereka untuk berkomunikasi, karena para para pembuat kebijakan ini, para menteri keuangan, gubernur bank sentral itu mereka mengetahui bahwa kalau mereka tidak bekerjasama, negara masing-masing hanya ego menuruti kebutuhannya sendiri-pokoknya saya selamat, yang lain saya tidak peduli-dunia akan benar-benar makin buruk. Dan pemulihan yang terjadi 2009-2010 ini, tidak akan bisa bertahan.

Mereka sudah memahami itu. Sekarang bagaimana membuat kerja sama itu diimplementasikan. Makanya KTT G-20 di Korsel akan menjadi penting, tempat untuk saling bertukar pikiran pada tingkat kepala negara, untuk kemudian tahu bahwa ini tidak semestinya menjadi zero sum game, yang satu menang at the cost of others.

Ekonomi global harus dikelola lebih seperti positive sum game, kalau Anda menang, orang lain juga harus menang. Win-win solution hanya bisa terwujud jika ada kerja sama dan kolaborasi. Kolaborasi itu berarti adjustment harus ditata, karena mengubah nilai tukar juga bukan persoalan mudah.

Negara seperti China memang harus menyiapkan. Persiapannya harus lebih cepat..karena di sini juga tidak bisa terus menunggu juga. Di sini itu maksudnya AS, Eropa, negara-negara lain yang sekarang apresiasi kursnya sudah sangat tinggi sehingga membuat banyak yang khawatir daya saing [ekspornya] menjadi tergerus. Ini yang sedang dalam proses.

Apakah Bank Dunia melihat risiko ekonomi dunia kembali resesi double-dip di tengah konsolidasi fiskal negara maju?

Saya rasa pesan Bank Dunia itu konsisten. Kalau konsolidasi fiskal di jangka menengah dan panjang itu diperlukan dan harus. Tetapi itu dilakukan secara terukur, dan terencana sehingga harmonisasi dari exit policy itu, terutama kalau antar negara, bisa dilakukan. Maka efek painful-nya akan berkurang. Karena Anda tidak bisa terus menerus seperti ini.

Keyword-nya adalah kolaborasi dan harmonisasi. Kerja sama itu penting. Tidak ada satu negara mengatakan saya maunya sendiri saja. Semuanya memahami bahwa mengurusi ekonomi negara sendiri itu sama dengan juga bertanggung jawab untuk berkontribusi pada ekonomi dunia.

Apalagi ekonomi besar seperti AS, Eropa, China atau Asean sekalipun. Asean sekarang dengan populasi 550 juta, dengan PDB totalnya lebih dari US$5 triliun, ini zona yang cukup besar untuk hal itu. Jadi mengurusi ekonomi itu menjadi suatu kebutuhan untuk saling berkomunikasi. Jadi, konsolidasi fiskal, akan tetap perlu dilakukan untuk negara-negara yang mengalami rasio utang terhadap PDBnya sangat tinggi.

Rasio utang Jepang terhadap PDB-nya sudah mendekati hampir 200%, sekitar 160%-170%. Proyeksi sampai 2015, bahkan AS bisa sampai di atas 100%. Kalau tren fiskalnya seperti sekarang, Inggris yang rasio utangnya sekarang mendekati 80% dari PDB bisa makin buruk. Prancis sama saja, kecuali Jerman barangkali.

Tapi negara-negara lain harus melakukan konsolidasi fiskal. Namun kalau dilakukan secara tiba-tiba, dengan skala yang besar, bahkan ekonominya saya rasa mungkin tidak akan bisa survive, karena kalau pemerintahnya langsung kontraksi, angka pengangguran makin buruk, jangan-jangan perdana menterinya bisa dijungkalkan.

Jadi mereka juga harus melakukannya secara bertahap. Biasanya melakukannya dengan refocusing, sama seperti di Indonesia, orang-orang miskin diproteksi dulu, social safety net penting. Karena itu menjaga demand pada kelompok paling rentan. Kemudian realokasi pada belanja yang dianggap tidak punya hasil. Kan banyak pemerintah paling ahli untuk belanja, tapi belum tentu spending-nya itu menghasilkan.

Kita masih bisa lihat dengan teliti pengeluaran-pengeluaran apa sebetulnya yang bisa dikurangi, yang sebetulnya tidak akan memengaruhi ekonomi terlalu banyak, karena dia tidak terlalu bagus design-nya, policy-nya buruk, atau barangkali hasilnya juga tidak baik. Dan kemudian, melakukan adjustment untuk penerimaannya harus dinaikkan. Penerimaan pajaknya harus dinaikkan.

Maka kalau Anda lihat temanya di G-20 atau di negara-negara maju, bagaimana memperbaiki [penerimaan] pajak. Tidak hanya menaikkan tarifnya, tetapi menghilangkan tax evasion, memperbaiki governance, menghilangkan lubang-lubang, tax haven termasuk yang didiskusikan di G-20, karena jangan sampai orang tidak membayar pajak terus lari ke negara lain atau jurisdiksi lain, menaruh uangnya di situ dan tidak ada yang bisa mengejar.

AS sudah bisa meminta compliance kepada Swiss yang biasanya sangat rahasia dari sisi perbankannya sekarang mereka bisa buka.

Jadi banyak negara harus konsolidasi, penerimaannya harus naik, belanjanya harus diperbaiki. Nggak selalu bahwa kalau langsung memotong belanja dan naikkin penerimaan dengan menaikkan tax kemudian ekonominya lumpuh. Karena kita sudah belajar, ekonomi menjadi buruk sehingga bisa menimbulkan double-dip.

Saya rasa pengetahuan kita sekarang sudah cukup banyak, banyak negara sudah pandai dan tahu bagaimana mendesain konsolidasi fiskal yang baik. Jadi tidak cuma kesalahan masa lalu yang pokoknya asal penerimaan dinaikkan, atau belanja dipotong sehingga kemudian masyarakat miskin makin menderita, ekonominya memburuk, pengangguran naik, kemiskinan melonjak, itu yang tidak diinginkan. Ada cara-cara untuk membuat konsolidasi itu bisa dilakukan dengan tetap melindungi masyarakat miskin, memperbaiki pelayanan dasar publik.

Presiden Bank Dunia Robert B. Zoellick mengingatkan krisis pangan belum berakhir. Apakah ada ancaman krisis pangan dunia baru dalam perekonomian dunia akibat tekanan harga?

Kalau ancaman krisis pangan dunia, itu memang menjadi sesuatu yang harus diantisipasi. Bank Dunia sangat memberi perhatian kepada itu, karena berpengaruh langsung kepada masyarakat. Terutama kelompok miskin. Begitu harga pangan naik, itu langsung terkena pada insiden kemiskinannya luar biasa, jadi sangat memengaruhi sekali terhadap tujuan pembangunan.

Makanya kita terus menyuarakan, seperti Presiden Zoellick menyampaikan, Managing Director Ngozi Okonjo-Iweala berbicara dengan banyak negara terutama Afrika agar tidak mengalami situasi seperti 2006-2007 di mana krisis pangan terjadi, harga tiba-tiba melonjak.

Kita melakukan kerja sama dengan negara-negara lain, bahkan dengan PBB, FAO, dll. Ini sangat penting agar jangan sampai nanti pada saat konsolidasi fiskal, ada salah satu yang menyebabkan makin memburuknya krisis pangan. Makanya pengeluaran untuk irigasi, untuk perbaikan sektor pertanian terutama untuk pangan harus bisa dijaga.

Negara emerging dihadapkan pada tantangan arus modal. Apa pendapat Anda tentang ide pembentukan jaring pengaman keuangan global untuk membantu negara emerging berlindung dari capital flow?

Situasi ini memang dirasa cukup ironis. Pada 2008, likuiditas dunia merosot, sekarang likuiditas sangat banyak, karena jangan lupa, hampir semua bank sentral dunia melakukan loosening kebijakan moneter. Fiskalnya juga ekspansif.

Jadi dunia ini lagi kebanyakan likuiditas lagi sekarang dan kemudian menyebabkan capital inflow, apresiasi masing-masing mata uang di negara-negara penerima flow itu, dan bahkan bisa terjadi price bubble karena uang itu kan mencari tempat, dia bisa buat beli properti, bisa untuk lending segala macam.

Nah secara global tentu kita perlu untuk membahas karena sekarang kalau terjadi konsolidasi fiskal dan kebijakan moneternya mulai disesuaikan, berarti likuiditas tidak akan terus menerus seperti itu. Namun masing-masing negara atau secara regional dan global, kita tahu jangan sampai terjadi krisis buruk seperti 2008 yang menyebabkan ada suatu institusi yang jatuh seperti Lehman Brothers menyebabkan seluruh dunia ikut rontok istilahnya.

Nah, financial safety net itu sangat memberikan harapan dan sekaligus keperluan untuk membuat sektor keuangan itu tetap berkembang dan memang dibutuhkan. Semua negara yang ingin maju ekonominya harus punya sektor keuangan yang sehat.

Tapi kesehatan sektor keuangan itu sangat tergantung pada regulasi, pengawasan dan governance. Regulasi harus diperbaiki, jangan sampai memberikan ruang agar pengelola lembaga keuangan itu menjadi sangat sembrono, tidak bertanggung jawab sehingga menyebabkan rontoknya perusahaan dia atau lembaganya.

Pengawasan harus ditingkatkan sehingga jangan sampai ada masalah bank begitu lama berlarut larut terdeteksi sehingga menyebabkan akumulasi risiko. Dan good governance harus dilakukan, apakah itu dalam peminjamnya, banknya, bank sentral ataupun lembaga pengawasannya.

Kalau tidak ada good governance, yang terjadi akan reckless dan kemudian akan terjadi kolusi dll. Financial safety net adalah suatu kebutuhan yang sekarang dikenal, bagaimana negara-negara dapat membangun suatu kerangka kebijakan ataupun interaksi dan mekanisme kalau sampai terjadi krisis sehingga masing-masing pihak yang harus membuat keputusan menjadi sangat paham tanggung jawab dan akuntabilitasnya.

Karena kalau sudah krisis, yang terjadi adalah saling menyalahkan kan? Di sini kan juga sama, terjadi krisis, oh dia yang salah, oh nggak ini yang kurang.. ini yang lemah. Dan kalau sudah dalam posisi krisis ditambah dengan saling menyalahkan dan makin tidak mengambil keputusan, krisisnya makin buruk. Kita punya banyak contoh di dunia ini.

Negara yang mengalami krisis ditambah blaming game, ditambah tidak berani ambil keputusan, krisisnya makin menjadi luar biasa buruk sehingga tidak menggerakkan sektor riil, sektor keuangannya kena, masyarakat umum kena, kemiskinan menjadi buruk.

Jadi bagaimana kita membuat kalau sampai terjadi, jangan sampai krisis terjadi, itu yang diharapkan. Tapi kalau krisis tidak bisa dihindari, bagaimana bisa mencegah krisis itu tidak makin buruk. Itu yang dibutuhkan. Setiap negara tentu punya kebutuhan sendiri-sendiri, tapi dunia sudah sepakat bahwa karena sektor keuangan itu borderless, saling memengaruhi, maka dibutuhkan kesepakatan mengenai mekanismenya.

Dari perspektif pembangunan, apa yang masih harus diperbaiki agar pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai tingkat potensinya?

Pemerintah sudah tahu dan sudah sering menyampaikan, para pengamat juga sudah memahami itu. Indonesia dari sisi kerangka kebijakan yang dirintis selama ini memberi suatu fondasi yang cukup kuat dan memadai untuk dapat tumbuh secara baik.

Karakternya, dengan guncangan-guncangan yang terjadi mulai dari harga minyak, harga pangan, nilai tukar, krisis perbankan dunia, kita masih bisa tetap tumbuh positif. Jangan lupa 2009 kita 4,5% itu bukan suatu prestasi yang sepele. Di dunia hampir semuanya Anda lihat not many yang bisa bertahan dengan pertumbuhan positif.

Artinya, Indonesia punya fondasi yang luar biasa sudah cukup kuat yang orang sekarang melihat Indonesia seperti jalur pertumbuhannya sudah jelas. Kerangka kebijakannya sudah baik. Yang menjadi penyebab kalau kita ingin tumbuh lebih tinggi dan itu juga sudah dikenali oleh kalangan bisnis, pemerintah adalah halangan struktural seperti tanah, masalah legal, kontrak.

Kalau Anda mau bikin infrastruktur, kita bisa hire cepat untuk bisa membuat studi kelayakan. Tapi begitu mau dijalankan, kita harus membebaskan tanahnya, kita harus bikin kontrak yang semua orang harus sepakat dan kontraknya itu pasti dijalankan. Kalau ada yang tidak menjalankan, artinya ada satu pihak yang melanggar. Ada mekanisme hukum untuk menyelesaikan secara efisien.

Jadi Indonesia perlu untuk membangun institusi itu. Dan itu berarti membutuhkan pemerintahan yang baik, artinya birokrasinya efisien, bersih, kemudian kita punya divisi dari sisi hukumnya juga baik. Kalau terjadi perselisihan komersial, pengadilan bisa menyelesaikan secara bersih juga, jadi para pelaku bisnis menjadi paham...oh ini yang terjadi.

Jadi mereka tidak melakukan second guessing. Ini adalah yang paling penting karena kemudian kepastian dan kredibilitas dari mekanisme itu akan membuat Indonesia elevate even more. Jadi kalau sekarang bisa tumbuh 5%, 6% atau bahkan 6,5%, kita bisa tumbuh lebih tinggi karena tadi.. karena capital sudah ada.

Jadi kalau Anda tahu tentang growth, butuh capital. Capital is coming. Butuh tenaga kerja, labor kita makin membaik, banyak, mungkin skilled dan educated labor yang harus makin banyak. Kemudian kontrak dengan serikat pekerja harus diperbaiki untuk menciptakan suasana bagus. Teknologi kita bisa impor.

Yang menjadi persoalan itu institusi. Institusi itu adalah, kalau dari sisi pemerintah, birokrasi, pengambilan keputusan, proses pengambilan keputusan. Dari sisi legal adalah kerangka hukum kita. Jadi masalah sistem pengadilan kita harus makin baik, kapasitas para penegak hukum harus makin positif dan kuat untuk bisa menciptakan kepastian bagi semuanya.

Rakyat perlu dilindungi dari sisi kepastian hukum. Supaya kalau sampai terjadi proyek, kalau mereka harus terkena, mereka tahu bagaimana harus komplain. Bagaimana mendapat kompensasi. Investor juga kepastian hukum. Karena dia tahu ketika saya menanamkan uang di situ, dia mengerti bagaimana harus berhubungan dengan rakyat sekitarnya, dengan pemda, dengan para penegak hukum supaya dia tidak menjadi korban.

Pemerintah dari pusat, propinsi, kabupaten harus sepakat menciptakan itu [kepastian]. Jadi ini adalah PR Indonesia untuk tumbuh, karena persepsi sudah sangat positif sekarang. Stabilitas positif. Prospek luar biasa tingginya, permintaan domestiknya luar biasa besar.

Jadi Indonesia full of potential untuk pertumbuhan tinggi dan kualitasnya harus bagus. Kualitas bagus seperti tadi, rakyatnya merasa bahwa pembangunan itu memang untuk mereka, maka mereka perlu dilindungi oleh UU. Oleh penegakan hukum yang baik, oleh kepastian. Investor juga perlu merasakan itu.

Jadi jangan sampai ada pemikiran bahwa seolah-olah kalau mau tumbuh tinggi, rakyatnya harus berkorban, atau investornya harus deg-degan.. kan tidak boleh begitu. karena tumbuh tinggi adalah untuk kebaikan semua dan itu hanya bisa muncul pada kepastian tadi, dari sisi pengaturan, dispute settlement kalau sampai terjadi perselisihan yang tidak sepakat bagaimana menyelesaikan secara baik.

Publik Tanah Air ingin tahu rencana masa depan Anda. Bisa di-share?

Rencana saya, bekerja di Bank Dunia secara baik, profesional, sehingga bisa memberikan suatu dampak positif terhadap negara-negara berkembang di seluruh dunia, menciptakan suatu keseimbangan yang respectable dan trustable, komunikasi antar negara-negara maju, negara berkembang karena isunya bukan malah makin berkurang, isunya makin banyak kalau kita bicara.

Trust building is very important, jadi saya rasa secara profesional dan intelektual seperti saya katakan, very challenging, bagaimana kita sebagai salah satu bagian dari sisi manajemen bisa melakukan dan mengelola semua tensi-tensi ini dan kepentingan yang begitu beragam.

Saya rasa itu pekerjaaan yang luar biasa demanding dan saya akan coba melakukan sebaik mungkin dan cukup menyita banyak sekali pikiran dan perhatian saya. Interaksi juga sangat menantang karena harus berbicara dengan berbagai negara dengan bahasa yang berbeda-beda tapi tujuannya satu.

It's a good opportunity untuk makin membuat saya rendah hati, bahwa ternyata yang kita tahu dan kita pelajari itu selalu tidak cukup, tapi kita cukup bisa percaya diri untuk berinteraksi secara baik dengan banyak negara.

Saya rasa hubungan dengan klien, kalau saya bertemu dengan menteri keuangan, bahkan dengan perdana menteri atau presiden dari negara-negara lain, saya bisa makin belajar banyak, makin merasa harus tahu keterbatasan dari ilmu kita. Makin mengapresiasi sulitnya membangun suatu negara sehingga penting bagi kita untuk bisa menjadi institusi yang bisa membantu dan bagian dari solusi, sehingga seluruh dunia bisa mencapai tujuan pembangunannya yaitu mensejahterakan rakyat.

Saya rasa itu misi yang luar biasa penting. Saya sangat passionate [bergairah], senang menjalankan itu karena saya anggap itu membuat hidup kita berarti. Tidak hanya memikirkan diri saya sendiri, bagaimana berkarir, bagaimana bisa membesarkan anak, kaya...Tapi kita memikirkan yang jauh lebih besar.

Dunia begitu banyak masalah, masyarakat dunia masih banyak persoalan yang harus dihadapi dan bagaimana kita terpanggil melalui peranan kita bertanggung jawab untuk ikut dalam menyelesaikan masalah-masalah besar itu.

Saya rasa itu suatu panggilan yang luar biasa dan saya melakukannya dengan sungguh-sungguh dan cinta. Cinta karena saya tahu bagian dari warga dunia dan apalagi mewakili Indonesia, ingin menunjukkan wajah yang positif.
Read More...

| 0 comments ]


Lippo Group selepas Mochtar Riady bukan sekadar tetap jaya, lebih dari itu semakin berkibar di pentas bisnis, bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di mancanegara. Kesuksesan itu tak terlepas dari peran James Tjahaja Riyadi yang kini bertindak sebagai chief executive officer kelompok usaha tersebut.

Berikut petikan perbincangan Bisnis dengan James.

Apa filosofi Anda, sehingga sukses membangun bisnis Lippo hingga menjadi besar seperti saat ini?

Aksi kita ditentukan oleh kepercayaan kita. Apa yang kita percaya pasti menentukan sistem nilai. Apa yang kita anggap bernilai, itu yang kita pikirkan, apa yang kita pikir dan apa yang kita anggap penting itu pasti memengaruhi hati kita, mempengaruhi sikap kita, kelakuan kita, aksi kita.

Saat saya memulai bisnis, saya sangat dipengaruhi oleh kepercayaan masyarakat dan sistem nilai masyarakat yang pada saat itu berlaku umum bahkan sampai saat ini menjadi sesuatu yang umum bahwa hidup itu adalah kaya dan senang.

Itu kepercayaan masyarakat yang menjadi kepercayaan saya waktu itu. Jadi tujuan utama hidup adalah kaya dan senang. Pada permulaan, saya masuk ke bisnis dan pekerjaan ini, tujuannya itu. Kaya dan senang. Itu obsesi yang terus saya kejar.

Tetapi pada 1990, kelihatannya di puncak hidup saya, justru saya bangkrut. Bukan dalam arti keuangan. Di satu sisi sepertinya usahanya maju, kaya, dan senang tercapai, tetapi justru saat itu saya mengalami kekosongan.

Usia saya waktu itu hampir 33 tahun. Saya mengalami kekosongan, yang namanya kaya dan senang sudah menjadi suatu hal yang tidak berlaku. Sepertinya kaya secara materi tetapi sebetulnya miskin, senang secara formalitas tetapi dalam hati kosong.

Saya tak bisa melupakan pengalaman waktu itu karena pengalaman itu menentukan yang menetukan kondisi saya pada hari ini. Saat itu, hati saya begitu kosong karena relasi saya dengan istri rusak. Selama 8 tahun pernikahan, akhirnya relasi saya dan isteri saya cerai di mata Tuhan. Anak saya juga membenci saya. Begitu pula saudara, teman-teman saya.

Jadi, pada September 1990 itu, saya mengalami pertobatan. Baru setelah itu saya berorientasi kembali ke hidup saya, baru saya sadar hidup itu bukan sekadar kaya dan senang tapi harus punya makna.

Karena itu, saya akhirnya kembali ke istri saya dan meminta maaf, hubungan kami dipulihkan. Begitu pula hubungan dengan anak, orang tua, dan teman. Pada saat itulah saya baru sadar, saya ini bukan superman, yang semua bisa, semua mengerti, semua hebat, dan orang paling baik di dunia.

Lalu, di dalam mengelola bisnis, saya mengalami perubahan besar. Pertama, pada saat itu saya adalah presiden direktur dari setiap perusahaan saya. Tahun itu saya mengundurkan diri dari semua perusahaan saya. Tahun itulah saya mundur dari Lippo Bank sebagai presdir dan semua perusahaan saya serahkan ke profesional. Saya bangun sistem pengelolaan yang berbeda di mana pengelolaannya secara profesional semua.

Kedua, saya baru sadar. Sstem kepercayaan saya harus berubah, hidup bukan kaya dan senang, tapi hidup itu adalah kita sebagai seorang steward. Steward itu jauh lebih mendalam dari corporate social responsibility (CSR).

CSR itu kita mengerjakan sesuatu dengan dasar titik awal bahwa segala hal adalah kepunyaan saya. Tetapi sebagai steward, saya sadar semua yang saya miliki baik talenta, kemampuan, aset, kekayaan, uang, termasuk hidup saya itu punya Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan kembali dan hanya bisa digunakan untuk memberkati orang lain.

Nah, sejak itu sampai sekarang saya terus berupaya mentransformasi dan mengubah Lippo dari yang dulu menjadi yang sekarang dan yang akan datang.

Apakah sudah berhasil?

Istilah kami, kesempurnaan itu adalah arahnya sudah benar, motivasinya sudah benar, dan sudah mulai bergerak. Dalam hal itu kita sudah mulai sempurna. Gunung es tidak dibentuk dalam 1 hari dan tidak mungkin juga lumer dalam 1 malam. Perjuangan kami seperti itu.

Setelah titik balik itu, saya bertekad untuk mendirikan yayasan. Pada 1991, saya mendirikan Yayasan Pendidikan Pelita Harapan. Pada 1992 membuka sekolah Pelita Harapan. Sekarang kami memiliki 22 sekolah dan dua universitas di Jakarta dan Surabaya. Seluruh perusahaan di Lippo ini dijalankan bukan sekadar komersial, tetapi ada aspek moralitas di mana kami menjalankan perusahaan dengan benar.

Jadi prinsip good governance sebenarnya lebih dari sekadar apa yang diketahui masyarakat saat ini?

Lebih dari itu, karena CSR itu adalah upaya perusahaan mengikuti norma-norma yang dianggap pas bagi suatu perusahaan dan make it sure mengikuti undang-undang dan peraturan.

Adakah nilai yang diwariskan oleh ayah Anda, sehingga juga berhasil di generasi kedua? Biasanya pada generasi kedua, perusahaan mulai tidak seperkasa generasi pertama, tetapi Anda berhasil membawa perusahaan ini sama kuatnya dengan generasi pertama.

Papa sekolah filsafat di Nanjing, RRC [China]. Dia sangat mendalami filsafat timur Lao Tze, Confucius, dan Mencius. Jadi, itu kental sekali dalam ajaran papa ke anak-anaknya baik di rumah maupun di tempat kerja.

Filsafat itu mendorong setiap orang harus menghormati orang tua, guru, pejabat, orang yang lebih senior dan hidup itu harus kerja keras. Etika hidup harus dijaga dan harus ditingkatkan terus. Ajaran menabung, dan harus menghemat. Itu semua menjadi suatu hal yang sangat kental. Itu jelas sekali dan bahwa seseorang itu harus punya jiwa berjuang. Fighting spirit. Itu yang sering dikatakan papa.

Jiwa berjuang itu berarti harus memiliki filsafat yang benar untuk mendorong fighting spirit yang tinggi. Itu yang kita dapat. Jadi sedari dulu, setiap hari memang kerja keras, harus berupaya, harus berindustri, harus berbisnis, kerja sesuatu harus bernilai tambah, dan sebagainya.

Namun apa yang berbeda adalah memberikan suatu arah dan isi. Karena kalau kita hemat akhirnya menjadi pelit. Hemat itu baik tapi kalau kemudian menjadi pelit, artinya lain lagi.

Kerja keras untuk siapa? Kalau untuk diri berbeda dibandingkan dengan kerja keras untuk masyarakat luas. Jadi, filsafat timur ini sangat membekali manusia untuk maju dan berkembang, tetapi tanpa sistem nilai yang jelas yang diberikan oleh agama, itu jadinya tak punya arah dan isi.

Jadi, ada peran Tuhan di dalamnya untuk memberikan arah dan isi?

Yes, right. That's it! Sebagai pengusaha atau entrepreneur apa yang memberikan kepuasan paling dalam? Yaitu pada saat kita tahu bahwa tujuan akhirnya adalah bagaimana kelompok Lippo ini bisa memberi berkat kepada bangsa melalui kesehatan dan pendidikan dan di dalam interaksi di masyarakat, kami bisa menjadi bagian yang memengaruhi sistem nilai masyarakat.

Kalau pendidikan dan kesehatan itu merupakan bagian dari upaya Lippo untuk memberi berkat kepada bangsa, kira-kira target ekonomis dan bisnis lain masih berlaku?

Masih. Artinya isu-isu di masyarakat kan cuma dua, ekonomi dan standar hidup. Ekonomi berarti menciptkan lapangan kerja, investasi di dalam infrastruktur dan sebagainya. Lalu, meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu adalah melalui pendidikan dan kesehatan. Tiga aspek ini yang sekarang Lippo kerjakan.

Lippo cukup terkenal dengan inovasinya. Pendidikan dan kesehatan merupakan inovasi baru yang Lippo kerjakan. Pada tahun 1990-an, ketika industri asuransi drop, Anda buat produk baru Warisan, Lippo Life. Kemudian properti booming pada 1994, bapak juga buat produk yang inovatif di mana Bapak menjual gambar. Dulu-dulu belum ada orang jual gambar. Ke depannya apa lagi?

Waktu saya selesai kuliah, papa mengajarkan saya satu hal. Setiap manusia harus punya visi. Tanpa visi, manusia itu mati, gak ada arah, tak ada isi. Visi itu apa? Visi itu kemampuan kita melihat lebih jauh, melihat lebih dalam, dan melihat lebih dulu dari orang lain.

Jadi, selesai kuliah, papa membawa saya ke Hong Kong, Singapura, ke mana-mana. Di setiap tempat itu, saya diperkenalkan kepada orang-orang top di masyarakat dan dunia usaha. Lalu saya diajak dan ditantang untuk berpikir, 5 tahun lalu masing-masing mereka ada di mana dan 5 tahun nanti kira-kira mereka ada di mana. Dari sana, kita belajar untuk melihat lebih jauh. Nanti 5 tahun kemudian, beliau tanya lagi, ingat tidak waktu dulu kita bicara mengenai si itu. Nah, sekarang dia di mana? Dari situ kita memperoleh gambaran, kita belajar lebih dalam, lebih ke depan. Di situ kita belajar soal isi. Berarti kita harus melihat dunia ini ke mana. Jangan sampai penny wise, pound foolish.

Sekarang dunia ini larinya ke mana? Kalau lihat percaturan dunia, kita bisa melihat era dominasi Amerika dan Barat sudah lewat. Pengaruh tetap ada, tapi dominasi sudah lewat. Sekarang eranya Asia. Amerika yang biasanya superpower, yang biasanya menundukkan power baru atau kekuatan baru yang sedang naik yaitu RRC, mereka ternyata kurang fokus untuk terus mempertahankan posisi mereka, karena mereka terbawa dengan urusan Palestina.

Jadi, membela hal-hal yang doesn't make sense. Akibatnya, [Amerika] kehilangan kredibilitas, kehilangan banyak energi. Padahal sekarang ini dunianya ekonomi.

Selain itu, ada peperangan di Irak. Akhirnya cuma begitu saja. Setiap kali dia [Amerika] masuk ke peperangan seperti itu, ia habiskan 5-10 tahun. Modal politiknya terkuras, modal ekonominya terkuras, emosi juga terkuras, politik dalam negerinya juga terpengaruh.

Yang mestinya mereka menangani secara multilateral, akhirnya mereka masuk dalam peperangan dan akhirnya menjadi bertabrakan dengan dunia Islam. Tenaganya habis lagi. Ini yang sedang terjadi. Mereka melihat percaturan dunia itu sebagai silo [gudang tertutup] Tetapi di lain pihak RRC melihat percaturan dunia semacam bermain sekat. Totalitas. Sekarang adalah dunia Asia, karena mereka [Amerika] sedang mundur, Asia naik, kita memiliki kesempatan bekerja lebih keras lagi untuk mengambil momentum di saat seperti itu.

Kita juga melihat di dunia, dengan ekonomi-ekonomi negara barat atau negara maju yang lemah, di dalam waktu yang akan datang ini, era suku bunga adalah era suku bunga rendah. Suku bunga rendah memberi keuntungan kepada pemodal-pemodal dunia.

Ini mengakibatkan sekarang ini mereka mulai memindahkan dana itu ke tempat-tempat yang pertumbuhannya lebih pesat supaya mendapat keuntungan lebih banyak. Ini yang mengakibatkan capital flow yang besar sekali masuk ke negara yang berkembang seperti Indonesia. Nah, hal tersebut mengakibatkan 18 bulan terakhir ini, hot money banyak yang masuk.

Jadi rupiah terus menguat. Bank Indonesia tidak ingin rupiah menguat terlalu cepat lalu, kemudian menyubsidi dengan membeli dolar yang mendapatkan keuntungan BI hanya 1,5% dan dia menyerahkan rupiah yang untuk BI cost-nya 6,5%. Dia rugi 4,5% setahun. Bisa tidak BI bertahan? Tidak bisa.

BI tidak beda dengan perusahaan biasa. Punya modal, punya neraca, profit-loss. Jadi, rupiah akan terus menguat. Inflasi relatif akan rendah sekali. Berarti suku bunga di Indonesia akan turun. Dana akan lebih banyak di tambah Indonesia ini dalam waktu 6 sampai 12 bulan bisa mencapai investment grade.

Ini tugas utama Menteri Keuangan. Harus bisa mencapai investment grade kalau bisa dalam 6 bulan sampai setahun.

Secara kuantitatif, kita sudah mencapainya. Secara kualitatif, tinggal rating agency menganggap politik kita, pemerintahan kita, pengelolaan fiskal dan moneter kita sudah memuaskan atau tidak. Jika investment grade sudah kita capai, double B itu, berarti Indonesia pinjam uang di luar negeri itu yang sekarang treasury ditambah 3,5% sampai 4%, akan turun menjadi treasury tambah 1,5%. Berarti saving 2% sampai 3,5% setahun. Bukan saja cost-nya lebih rendah, suku bunga akan lebih turun lagi dan aliran dana lebih besar lagi.

Sudah waktunya pemerintah harus investasi besar-besaran di dalam infrastruktur, harus antisipasi karena infrastruktur yang ada, sistem yang ada, sulit untuk secara suistanable menopang pertumbuhan lebih dari 6,5% - 7% setahun. Sektor swasta juga harus dibuka supaya investasi lebih besar lagi. Di dalam ini, transformasi fisik itu gampang.

Investasi di jalanan, pelabuhan, airport sebenarnya gampang. Diberi suasana yang lebih enak pun sudah jalan. Ada reformasi di dalam land acquisition di dalam draf UU yang baru jalan, tetapi transformasi sosial juga harus ikut.

Jadi, tugas swasta atau dunia usaha, kita punya stakeholder bukan hanya pemegang saham lagi, tetapi masyarakat komunitas luas yang memberikan kesempatan bagi kami berdagang. Jadi usaha bertanggung jawab membangun social capital. Bangun transformasi sosial.

Bagaimana? Ya itu, usaha yang kita kerjakan. Harus ada kaitan dengan pembangunan social transformation dan istilahnya program stewardship kita atau CSR itu harus mencapai ke sana. Berarti kesehatan dan pendidikan sebagai dua hal yang paling utama.

Selain itu, kita melihat kemajuan dunia ini sudah mengarah ke globalisasi digitalisasi. Teknologi ini majunya cepat sekali. Lippo adalah yang pertama menjalankan 3G. Izin yang pertama ada di Lippo.

Jadi, orang di 2G, kami sudah di 3G. Sekarang semua orang sudah ada di 3G, diam-diam Wimax kami sudah di 4G. Ini 4G area. Jadi broadband zaman sekarang itu bandwidth tak cukup pada saat dari 5 juta menjadi 200 juta pemakai Internet. Yang tadinya sekadar kirim email, sekarang sudah sampai ke streaming video.

Kita memang harus masuk ke 4G. Teknologi 4G sekarang ini cuma satu yaitu Wimax yang akan disusul 3 atau 4 tahun kemudian dengan LTE [Long Term Evolution]. Migrasinya ke sana. Tapi 4G ini adalah Wimax dan Wimax ini adalah teknologi yang tinggi.

Kami sudah melihat ke sana. Selain itu, kami sudah melihat the next wave sesudah 4G. Larinya ke Cloud. Apa itu? Cloud itu adalah the future. Jadi kalau bisa dilihat, perusahaan di bidang Cloud ini di Amerika namanya 3PAR. Itu sekarang sengit antara Hewlett-Packard dan Dell perang mengambil perusahaan ini karena perusahaan ini adalah pionir di bidang Cloud.

Bidang Cloud ini adalah bisnis yang akan futuristik sekali. Sekarang ini misalnya saya pakai Blackberry, nanti ada yang namanya iPad, nanti di rumah komputer berjalan. Masalahnya satu di antara lainnya itu tidak connect, jadi file kita taruh di mana? That's a problem. File kita masuk di mana? Kedua masing-masing platform yang kita pakai tidak punya computing power. Jadinya Cloud ini adalah virtual platform di mana masing-masing ide kita link ke sana, jadi file kita di-storage di sana. Computing power juga di sana.

Bagaimana untuk sektor agribisnis?

Di Indonesia ini, kita membangun bangsa berarti kita membangun sumber daya alam dan sumber daya manusia. Sumber alam ini termasuk mining, forestry, plantation. Kami juga tertarik ke sana. Secara prinsip Lippo percaya kami harus fokus. Istilahnya itu adalah apa yang sudah kami miliki biarlah kami tekuni, artinya setia pada hal-hal kecil karena nantinya kita diberikan kesempatan untuk menjadi lebih besar. Itu prinsipnya. Namun demikian kami ditantang oleh pemerintah dan masyarakat untuk ambil bagian dalam plantation dan kami sedang mempelajari terus untuk masuk di bidang plantation ini dan sudah mulai menjajaki investasi awal di bidang ini juga.

Terkait dengan kesehatan, selama ini bisnis kesehatan Lippo lebih menyentuh ke kelas menengah ke atas. Kira-kira ada rencana yang lebih konkret untuk lebih membumi?

Visi Siloam adalah menyediakan standar, menyediakan pelayanan kesehatan dengan standar internasional terhadap setiap warga Indonesia. Itu visi kami. Dalam hal ini kita melihat dari dua sisi yakni demand dan supply. Demand-nya ada tidak? Kita tahu demand itu ada yang namanya Asabri yang mengasuransikan anggota dan keluarga TNI, lalu ada Askes yang mengasuransikan karyawan dari pegawai negeri, ada juga Jamsostek. Tiga ini tidak lebih dari 30 juta orang.

Kita tahu setahun terakhir ini muncul yang namanya Jamskesmas yang sudah mulai diaplikasikan di masyarakat dengan total 72 juta orang. Jadi total 100 juta-an karena ada tambahan 72 juta itu tadi.

Sementara itu dari 500 pemerintahan daerah baik provinsi, bupati, dan wali kota mulai menjanjikan pelayanan kesehatan gratis pada saat kampanye. Sekarang sudah 150 dari 500 yang menjanjikan itu dan bahkan sudah mengaplikasikan. Nah, itu sekarang 22 juta. Jadi dari 240 juta, sekarang ini sudah menjadi 120 juta demand.

Ini demand-nya sudah ada. Nanti dalam perjalanan waktu ini akan menjadi universal, akan menjadi 240 juta. Masalahnya di suplai. Jadi warga Indonesia yang biasa pun sudah ada kemampuan karena sudah ada Jamkesmas dan Jamkesda. Masalahnya di suplai. Ada tidak? Tidak ada.

Jamkesmas 72 juta yang dijamin realitas suplainya cuma 20 juta. Sekarang di rumah sakit-rumah sakit, bed occupancy-nya itu sudah full room. Itu artinya di rumah sakit tak mungkin 100%, karena wanita dan lelaki tidak bisa dicampur, orang dewasa dan anak-anak juga tidak bisa dicampur, dan beda penyakit juga tidak bisa dicampur.

Pemerintah ingin menaikkan anggaran untuk kesehatan menjadi 5% dari 3%. Sekarang saja suplai yang minim itu hanya bisa melayani 30 - 40 juta, kalau sudah 5% coba bayangkan bagaimana meningkatkan kualitas dan kuantitas.

Pemerintah sesungguhnya memiliki defisit besar untuk menyelesaikan tanggung jawab dan hutang di dalam obligasi kesehatan. Kalau swasta tidak ambil bagian, pasar tidak dibuka, masyarakat kita 20 tahun lagi 30 tahun lagi akan lebih parah karena pemerintah tak mampu memprioritaskan ini semua. Karena itu, kami melihat peluang ini dan mengambil bagian di dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan.

Kami membangun dua rumah sakit, mengambil alih dua rumah sakit dengan empat rumah sakit menjadi suatu base kami. Kami baru ambil alih dua rumah sakit lagi di Jambi dan Balikpapan, dan bulan depan ini akan membuka MRCCC [Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre] di Semanggi. Jadi ada tujuh rumah sakit dan akan membangun lagi 30 rumah sakit untuk melengkapi suatu sistem rumah sakit di Indonesia sejalan dengan visi pemrintah.

Jadi, suplai ini harus bisa mencukupi. Ini semua infrastruktur sosial yang dibutuhkan. Lalu bagaimana dengan menengah ke bawah? Memang visi kami adalah global healthcare standard to every Indonesian. Siloam Hospital di Karawaci, dari 220 ranjang ditingkatkan menjadi 275 ranjang tetapi kami baru groundbreaking yang disaksikan oleh Menteri Kesehatan dengan menambah 2.000 ranjang karena memang kami tahun lalu tekad this is where we have to go. Sebanyak 2.000 ranjang ini untuk masyarakat kelas tiga dan untuk masyarakat luas di seluruh Tangerang yang penduduknya 4,5 juta.

Kami akan menyediakan transportasi secara gratis dari pasar-pasar dan desa untuk dibawa ke rumah sakit itu. Rumah Sakit itu menjadi Rumah Sakit Umum (RSU) Siloam.

Rugi dong pak?

Ini inovasi yang tadi dikatakan. Justru Lippo membangun sistem-sistem yang pemerintah katakan not workable, dan kami katakan let me try and make it workable. Pemerintah katakan not workable karena itu APBN. Maka kami katakan, let us try make it workable. Swasta mengatakan not workable karena there is no profit. Kita katakan let me try to find the system that works. Swasta mengatakan workable itu ada maksud. Sementara pemerintah bilang not workable karena APBN atau APBD.

Bagaimana caranya? It's not easy tapi kita tekad if you do it right there must be a way to make it works. Artinya kita mesti terapkan sistem subsidi silang bagaimana yang kalangan atas menyubsidi kalangan yang massa ini. Tetapi jika skalanya besar, cost itu akan turun 75%, Jadi, yang tadinya tidak affordable menjadi affordable. Jadi caranya banyak. Dari yang punya ke tidak punya. Dari yang marginnya lebih besar ke margin yang lebih kecil.

Di Indonesia melakukan open heart bypass itu cost-nya Rp65 juta. Setahun di Indonesia 700 open heart bypass. Di India cost-nya cuma US$1.400. Itu berarti Rp12,5 juta. Kenapa? Karena mereka setahun ada 80.000 open heart bypass. Jadi pada saat kita meningkatkan volume dari 700 setahun menjadi 10.000, cost kita di bawah Rp15 juta. Lalu jika tidak ada volume, orang mau melakukan open heart bypass juga ragu-ragu. Takut karena kompetensinya kurang. Jadi kami siasati seperti itu. Kami bertekad we have to find a system or create a system that works.

Apa itu juga yang berlaku di industri properti?

Ya Ya.. Benar. Saya kasih contoh di industri properti. Waktu pertama kami ingin mengembangkan Lippo Karawaci, kami mencari modelnya siapa. Lalu kita melihat pada saat itu tahun 1991 modelnya adalah BSD [Bumi Serpong Damai]. BSD itu 6.000 hektar ternyata mereka sebulan itu menjual 10-20 unit. Salesman-nya cuma lima jual sebulan 10-20 unit. Saya pikir kalau umpamanya sebulan 10-20 unit, 100 hektar selama 30 tahun tidak akan habis.

Terobosannya apa? Sistem apa yang bisa kita terapkan supaya it works? Nah, kita terapkan sistem asuransi jiwa. Sistem ini kita short gun approach. Jadi short gun itu pokoknya kita tembak short gun, 1% yang kena sudah lebih besar dari pada satu per satu.

Kalau untuk mendapatkan satu penjualan rumah saya membutuhkan satu salesman, yah kalau mau 1.000 saya cari 1.000 salesman, jadi salesmen Lippo saat itu, kita create namanya Lippo Land Club yang 10.000 salesman. Dengan 10.000 salesman kita bisa jual satu hari 1.000. 10.000 salesman kita targetkan satu hari cari 20 orang.

Kalau kita bangun lalu kita jual, kita bisa mati konyol. Resikonya terlalu besar. Kami menerapkan pre selling. Kita jual gambar. Dengan jual gambar, risiko kita turun, konsumen dapat harga yang lebih murah. Jadi ini konsep terobosan dengan suatu sistem yang kita create. Ini suatu hal yang what is needed.

Anda begitu cepat membaca sesuatu dan membuat inovasi tapi sering kali keliru dibaca orang. Mungkin di satu sisi juga karena regulasi yang kadang-kadang tidak siap, sehingga Lippo seringkali bermasalah. Kiat apa untuk menghadapi ini?

Pertama, banyak orang menilai suatu perusahaan itu agresif atau konservatif. Seolah-olah suatu perusahaan yang konservatif itu baik sementara yang agresif itu tidak baik. Sesungguhnya, suatu perusahaan harus dua-duanya. Artinya jika sudah menetapkan suatu bidang yang ingin dikerjakan, di bidang itu dia harus lebih agresif dari orang lain. Kalau sudah putuskan untuk masuk bidang itu, ya harusnya agresif. Tapi kalau sudah diputuskan di bidang yang memang gak mau, biar gratis harus bilang thank you atau no. Harus konservatif.

Dalam bisnis yang sudah menjadi tekad Lippo, pasti kita lebih agresif dari yang lain. Masyarakat tidak akan melihat kami sangat fokus di bisnis yang tidak kami ingin kerjakan. Kami jauh lebih konservatif dan di bisnis yang sudah menjadi tekad kami, kami harus agresif.

Kalau agrobisnis apakah termasuk yang konservatif atau agresif?

Perkebunan selama ini termasuk bisnis yang kita bilang no dan satu sen pun kita tidak masuk ke sana. Sekarang secara strategi, is that something yang kita mau masuk. Kalau kita bilang Yes, pasti kita akan lebih agresif. Memang seringkali adalah seperti yang sudah anda katakan itu [regulasi yang tidak siap], karena pada saat kita mendahului, tidak ada peraturannya. Lalu karena ini something new, pejabat sering kali mainnya lebih aman. Sekarang misalnya kita masuk ke dalam bidang bioteknologi. Peraturannya tidak ada. Hukumnya tidak ada.

Apakah tertarik untuk mengembangkan bioteknologi juga? Amerika sudah ada.

Kita melihatnya begini. PBB 2 bulan yang lalu membuat suatu terobosan luar biasa yang tidak dilihat banyak orang. Mereka mengambil suatu resolusi bahwa air merupakan hak azasi manusia yang paling mendasar, karena air ini di banyak tempat dan secara global terus berkurang dan akses kepada air minum menyusut.

Sekitar 70% penggunaan air di dunia ini adalah [untuk] agriculture. [Untuk memproduksi] 1 kilogram beras membutuhkan air 5 ton. 1 kilogram beef butuh air 4 ton, 20%-nya industri dan 10% hanya household.

Dengan populasi dunia akan naik dari 6,5 menjadi 9 miliar orang dalam waktu 20 - 30 tahun, otomatis penggunaan air akan meningkat 40% untuk agriculture karena untuk makanan. Ditambah tuntutan clean energy mengarahkan ke biofuel. Itu akan memerlukan agriculture land yang lebih besar dan kebutuhan air yang lebih besar.

Water security, food security, energy security sekarang menjadi masalah besar. Ini hal yang futuristic yang kita mesti memikirkan bagaimana perusahaan-perusahaan ini masuk dan memberi solusi di bidang ini, termasuk di Indonesia khususnya di bidang agriculture.

Jadi kami melihat agriculture ini tidak sekadar pada komoditas, seperti palm oil. Kami melihat secara totalitas di mana porsi kami di dalam mengambil solusi itu.

Keputusan untuk masuk ke agriculture ini akan diambil kapan?

Secara prinsip kami sudah bilang kami masuk. Tetapi agriculture ini kaitannya dengan water security dengan basic human rights, dengan biofuel, dengan food security.

Bagaimana Anda mengeliminasi semua pandangan terkait langkah inovasi yang Anda lakukan terutama di pasar modal? Sudah ada pandangan masyarakat kaya dan miskin bersama Lippo.

Lewat waktu kebenaran itu akan nyata. Memang Lippo ini berpikir jauh, pada saat kami berpikir jauh, pada potongan jangka waktu pendek kami bisa disalahtafsirkan. Orang yang salah tafsir masuk waktu salah dan keluar waktu salah bisa rugi. Tetapi coba kita lihat fakta, siapa pun yang masuk ke Lippo pada saat kita merealisasikan nilai, semua untung besar.

Lihat Matahari Department Store, semua untung besar. Jadi, lewat waktu itu akan terbukti. Matahari harga saham Rp500, itu naik sampai Rp1.300 plus waran yang nilainya Rp300 plus bagi dividen yang Rp350, jadi Rp2.000. Dalam waktu setahun itu sudah realisasi.

Sahamnya masih berpeluang naik terus karena tidak akan stop di sana. Tetapi kalau orang ambil sepotong waktu saja, keluar masuknya itu sangat short oriented, itu susah, karena kami berpikir jangka panjang.

Tetapi siapa pun yang berinvestasi dengan Lippo dalam in the long term period, pasti tidak rugi.

Mungkin ada persoalan ketika mengimplementasikan semua yang ada dalam diri Anda kepada SDM di sekitar Anda, bagaimana menghadapi kesulitan mereka?

Memang yang utama tetap adalah surprise. Memikirkan suatu terobosan, konsep itu yang paling utama. Itu nilainya 70-80%. Human resources ini masalah paling besar, karena itu kami masuk di bidang-bidang yang memang nilai tambahnya besar sekali supaya memiliki cukup celengan untuk men-training manusia, untuk bisa toleransi kesalahan-kesalahan sebelum tim kami bisa mencapai standar yang kami harapkan.

Zaman sekarang di mana uang bukanlah nilai, tetapi komoditas. Modal selalu bukan masalah. Manusia juga bukan selalu hambatan karena manusia punya kapasitas dan kemampuan yang jauh lebih besar dari yang kita pikirkan.

Di Thailand, jika kita pergi ke Elephant Park, kita bisa lihat elephant saja bisa dilatih melukis menjadi lukisan yang kita pasang di dinding, masak gajah bisa dilatih seperti itu sementara manusia tidak bisa.

Di sektor ritel, apakah nilai yang anda dalami anda terapkan juga, apalagi sekarang boleh dibilang ada pertarungan di sektor ritel? Termasuk kasus dengan Carrefour.

Waktu kami pertama masuk ke bidang ritel, porsi modern retail dari keseluruhan ritel di Indonesia hanya 0,2%. Sudah jelas bahwa di negara maju, peritel modern meningkat sampai 50% - 60%. Karena itulah, kami harus menerapkan suatu sistem atau konsep retailing baru yaitu bagaimana Matahari yang waktu itu rugi yang omzetnya pada saat kami ambil alih 10 tahun lalu cuma Rp1 triliun sekarang bisa buka 100 toko di seluruh Indonesia dan bisa dikembangkan sistem network merek yang nasional untuk massa yang luas ini.

Itu kami terapkan dalam 10 tahun menjadi Rp15 triliun dari Rp1 triliun. Dengan demikian dari rugi kemudian setahun berikutnya menjadi Rp1 triliun. Itu yang kami lakukan di Matahari Department Store, sehingga pada saat ada tawaran dari CVC, perusahaan privat equity global yang besar untuk masuk, yah rekan-rekan mengatakan why not karena itu memberi keuntungan untuk shareholders.

Jika ditanya Riady, Lippo, setuju tidak penjualan Matahari Department Store, kami tidak setuju. Tetapi manajemen mengajukan bahwa ini sudah ditawar dengan harga hampir Rp10 triliun, kami harus menyetujui karena itu yang terbaik pada saat ini untuk shareholders.

Soal Carrefour, di dalam bisnis hipermarket, Carrefour membawa modal global, merek global, teknologi global, modal global waktu masuk ke Indonesia dan selama 6 tahun mendominasi pasar di Indonesia.

Selama 6 tahun itu mereka mendominasi pasar hipermarket. Lippo dengan Hypermart memulai dari nol. Setiap toko yang kita buka, kita dihantam supaya mati. Dengan apa? Dengan harga. Kita bangga, kita 100% lokal, 100% Indonesia. Orang Indonesia, ide Indonesia, modal Indonesia. Semua Indonesia. Setelah 6 tahun didominasi, kami equal dengan Carrefour meski dihantam Carrefour sampai babak belur. Dia rekrut orang kita, pada satu saat dalam satu malam, 25 orang dia rekrut.

Itulah yang dikerjakan. Ada Hypermart dia pasti hantam harga terus karena kantongnya tak ada serinya. Tetapi setelah 6 tahun kita equal. Di sanalah mereka menggunakan modal global itu membeli Alfa. Itulah yang membuat mereka lebih besar. Kita kerja lebih keras lagi karena sudah fokus di situ.

Bagaimana setelah Carrefour dimasuki oleh Chairul Tanjung yang misinya mengangkat produk-produk dalam negeri?

Saya sangat welcome Pak Chairul seorang entrepreneur tulen, punya etika kerja luar biasa, punya semangat nasionalisme yang luar biasa untuk masuk ke rescue Carrefour yang sedang on the way down. Saya kira baik dan sejak beliau masuk sudah ada perubahan orientasi kembali kemitraan dengan supplier lokal dan Kadin.

Sebulan sebelum dia masuk ke Carrefour, saya breakfast dengan Pak Chairul dan saya katakan ke dia bahwa bisnis hipermarket itu baik. Silakan masuk dan saya katakan juga agar Chairul membeli saja Carrefour. Ternyata 1 bulan kemudian beliau beli. Setelah beliau beli, dia ajak saya bicara dan undang saya makan di kantornya. Bagaimana kita bisa bersama-sama membangun bangsa melalui retailing. Saya kira bagus sekali dan bagaimana kita bisa sama-sama bersaing, namun secara produktif dan konstruktif dan sehat yang saling cari tempat yang bisa sama-sama bekerjasama. Saya kira itu baik sekali.

Kalau lihat belakangan ini Carrefour mulai melepaskan kepemilikannya ke investor lokal. Seperti di Malaysia, ia sudah menawarkan ke investor lokal. Itu bisa digambarkan sebagai fenomena bahwa bisnis ini tengah mengalami persoalan atau pasarnya sendiri yang mulai tidak menerima pola seperti itu?

Saya kira dominasi barat dan Amerika memang sudah lewat, termasuk ide teknologi, termasuk manajemen, etika kerja. Jadi saya yakin di bawah pimpinan Pak Chairul, Carrefour akan jaya.

Beruntung dengan ide-ide terobosan beliau, pasti ada gebrakan yang dia lakukan seperti akan membuka 100 gerai di seluruh Indonesia. Itu akan memacu kompetisi yang sehat.

Atau menurut Anda, lebih enak berkompetisi dengan Pak Chairul yang memang tidak memiliki background di ritel?

Saya kira Pak Chairul itu bergerak di bisnis jasa semua. Bisnis jasa ini fokusnya kepada konsumen. Jadi konsumen itu yang harus kita mengerti. Pak Chairul sangat mengerti siapa itu konsumen, karena itu dia masuk melalui perbankan, melalui finance, televisi, dan lain-lain.

Kembali lagi, visi kami ini adalah kami ingin memengaruhi masyarakat dengan etika kerja. Filsafat yang benar. Jadi bukan kaya dan senang tapi bagaimana kerja kami bisa memberkati orang lain.

Bagaimana terobosan di industri media?

Menegenai media, terus terang kita tidak merencanakan masuk ke media. Keberadaan kami di media itu adalah by default karena ada kawan baik namanya Tito Sulistio. Dia yang bangun Investor Daily. Dulunya Investor Magazine.

Pada saat itu dia bilang butuh sedikit modal. Karena teman baik, saya beri pinjaman kepada beliau. Akihirnya setelah jalan dia katakan 'Sudahlah pinjaman ini dikonversi saja menjadi modal'. Nah, saya dapat 30% di Investor Magazine. Lalu terpisah dia bikin Investor Daily.

Saya tidak pernah ikut dari mula. Dia bikin Investor Daily tanpa saya. Setelah dia jalan, dia katakan kita mergerlah Investor Daily sama Investor Magazine. Ya sudah, saya katakan silakan. Jadilah saya ikut dalam merger itu dan sesudah dimerger saya dapat 15%. Dari sana dia terus kembangkan dan kami ikut di dalamnya.

Lalu ada beberapa teman-teman merespon tawaran dari Forbes Magazine untuk buka Forbes Indonesia. Lalu mereka mempersiapkan tetapi kemudian Forbes tidak jadi masuk ke Indonesia. Mereka tetap menjalankan itu dengan Globe Asia. Lalu mereka-mereka itu bilang ini ada kesempatan untuk yang berbahasa Inggris. Mereka masuk ke yang namanya Jakarta Globe dan kita ikut di dalamnya. Jadi sebenarnya by default.

Arah ke depan untuk bisnis ini seperti apa?

Kami melihat bahwa dari seluruh media memilik peluang yang luar biasa untuk membangun bangsa melalui cara pikir sistem kepercayaan yang akhirnya memengaruhi aksi masyarakat.

Lalu, dalam arti suistanable bisnis ini, kita melihat bahwa dari kue iklan 100%, print media itu mengambil porsi tidak sampai 5% dari seluruh iklan, jadi arahnya pasti tidak bisa masuk ke print media. Arahnya harus keluar dari print media.

Jadi, arah kami melalui First Media itu pasti ke television karena TV itu 85%. Jadi, First Media ini dia punya cable TV, Internet sebagai konteks, dia lalu coba-coba introduce family channel sebagai stasiun TV, lalu barus saja membeli Q Channel. First quarter tahun depan mereka meluncurkan news channel.

Jadi arahnya ke sana. Nah, lalu arahnya ke sana, lebih futuristik lagi adalah digital. Jadi semua ini larinya ke konvergensi media, tidak ke print. Kami mau switch ke televisi karena televisi dapat 1% market share saja, itu berarti sudah 20% dari print.

Di bisnis perbankan, apakah Lippo berencana mengembangkan bisnis ini lagi?

Ya. salah satu kompetensi dari Lippo dan keluarga kami adalah perbankan. Kami sangat menguasai konsumen serta memiliki network yang punya akses ke konsumen. Kami sudah memiliki 17 juta nasabah Lippo, non bank. Kami sudah memiliki setahun itu 1 miliar pengunjung ke unit-unit Lippo baik toko, mal, rumah sakit, dan sebagainya.

Induk paling utama dari perbankan itu adalah kepercayaan. Jadi, kepercayaan kami, nama Lippo di masyarakat luas sangat dalam dan besar, apalagi sudah keluar dari Jakarta. Memang kami memiliki kompetensi, memiliki ingredients, untuk kembali masuk perbankan dan sudah 5 tahun setiap hari ada saja orang yang menawarkan masuk kembali ke perbankan dan bekerja sama. Itu selalu opsi yang kami buka dan akan kami kaji.

Sudah ada titik cerahnya yang lebih konkret dengan siapa?

Mungkin dalam waktu setahun ini kami akan ambil keputusan untuk kembali ke perbankan, tetapi dengan omzet yang berbeda dan tidak berkompetisi dengan pemain yang ada dan harus berbeda.

Inovasi Lippo ini sebenarnya meniru tetapi cuma lebih dulu saja sesuai dengan visi Anda melihat lebih dulu, lebih jauh, dan lebih dalam. Apakah seperti itu?

Oh iya. Tidak ada yang baru di bawah langit. Kami di Lippo mengatakan seperti ini, kita mencari excellence dan originality. Tetapi kalau harus pilih salah satu sebenarnya [kami pilih] excellent, Jangan original tapi tidak excellent.

Jadi, keunikan dari Lippo ini kami sungguh perusahaan multinasional artinya bukan seperti yang dipikir oleh masyarakat luas bahwa itu berarti kami memiliki kantor di setiap negara. Bukan. Multinational company adalah perusahaan yang punya budaya, punya sistem, punya jiwa, apa pun yang dia butuhkan dia mencarinya secara multinasional. Ide, modal, energi, tenaga, teknologi, semua yang dibutuhkan itu multinasional, termasuk ide atau terobosan pun munculnya dari multinasional.

Ide itu di seluruh dunia banyak. Jadi, manusia jangan bepikir skeptis. Oh, pasti dia mencuri, dia bohong atau pasti ini itu. Harus berpikir positif. Ketika melihat keberhasilan orang, bagaimana caranya dia berhasil. Kita mau tiru dengan variasi dan keberanian. Lets do it.

Jadi ide itu memang banyak di luar. Kita tidak ingin mengklaim ide itu original dari kita.

Kita juga multinasional dalam arti jaringan kita di luar negeri luas, tetapi lebih dalam lagi esensi dari multinasional itu bukan lagi berarti secara fisik tetapi secara filsafat. Kita mencari ide, manusia, modal, teknologi. Semua yang dibutuhkan itu multinasional.

Komposisi revenue Lippo dari dalam negeri katanya makin banyak dibandingkan dengan luar negeri?

Saat ini mungkin 10-20%. Tetap economic scale dari Lippo di Indonesia, karena Indonesia memiliki 240 juta lebih penduduk. Coba lihat Singapura. Mau besar bagaimana pun masih sangat terbatas.

Sudah banyak bisnis yang digeluti Lippo. Ke depannya, bisnis apa lagi yang akan dikembangkan lebih fokus?

Di bidang ICT (information and communication technologies). Bidang itu yang akan kami kembangkan, tapi selalu ujung-ujungnya usaha kami cuma satu, yakni jasa. bentuknya beda-beda tapi jasa melayani konsumen.

Ada putusan yang paling disyukuri ataupun yang paling disesali dalam perjalanan hidup?

Yang paling penting untuk saya September 1990 pada saat saya bertobat. Itu saya paling syukuri. Konsep yang lama, kaya senang, itu saya sesali. Filsafat kaya dan senang atau materialisme dan hedonisme itu menjadikan segalanya dilihat dari ukuran materi.

Artinya kita tidak bisa ukur relasi, talenta dengan materi. Dulu saya abaikan relasi, sekarang relasi menjadi penting. Kita punya beban hidup, visi hidup, panggilan hidup, kita punya passion untuk something else di luar diri kita?

Bagaimana terkait kiprah Lippo di dunia ekonomi politik, karena Lippo juga leading dalam hal itu? [mantan Presiden Amerika Serikat] Bill Clinton saja bisa diintervesi.

Ha ha ha... Pada saat suatu perusahana lebih besar, pertama, otomatis ilmu yang muncul bukan hanya ilmu pasti, tetapi sudah mencakup ilmu tidak pasti, masalah sosial, manusia. Jadi, dibutuhkan kepekaan kami dan kompetensi kami untuk supaya bisa melihat lebih daripada ilmu pasti.

Kedua, pada saat zaman terus berlanjut, stakeholder bukan lagi pemegang saham, tetapi masyarakat luas yang berarti politik, sosial, dan politik. Jadi bagaimana pun kita tidak bisa buta terhadap masyarakat luas dan masalah sosial politik itu.

Setiap perusahaan membutuhkan dan memiliki platform berkomunikasi dengan elit bangsa kita, termasuk elit politiknya supaya kita bisa mengomunikasikan visi kami sebagai bagian penting dalam membangun bangsa termasuk bagian penting dari memberi solusi masalah di dalam masyarakat.

Anda juga membangun relasi dengan Obama?

Saya kira semua yang kita bangun itu bersifat kelembagaan dan kelembagaan itu bukan berarti individual. Saya sendiri juga sadar, bahwa kekayaan dan kekuasaan itu adalah berkat dan kutukan dari satu mata uang yang sama.

Jadi, pada saat kita bicara uang, politik kekuasaan, kita harus hati-hati, jadi kita harus belajar. Saya juga belajar banyak semoga dalam waktu yang akan datang menjadi lebih wise.

Bagaimana rencana yang akan datang terutama terkait menyiapkan generasi ketiga di Lippo?

Satu sisi perusahaan kita fokus kepada profesionalisme, di lain sisi di dalam keluarga saya, saya membimbing anak saya menjadi bertangung jawab mengembangkan talenta terbesar yang dia miliki.

Saya punya empat anak, tiga anak larinya ke pendidikan. Satu mengajar di SD, satu mengajar di Fakultas Hukum UPH [Universitas Pelita Harapan], satu filsafat dan pendidikan di UPH, sementara anak terakhir mengembangkan talenta terbesarnya di bidang film dan televisi.

Saya tidak menganjurkan dan mendorong mereka ke usaha, bahkan sebaliknya saya katakan harus kembangkan talenta terbesar, karena pada saat seseorang mengembangkan talentanya bukan yang terbesar, yang pasti dia akan frustasi karena tidak akan bisa berkompetisi dengan orang-orang yang masuk ke bidang itu dengan talenta terbesar.

Nanti setelah 1- atau 20 tahun ingin duduk sebagai board member, oke saja but prove your self first. Itu filsafat yang saya kembangkan untuk anak-anak saya. Apabila suatu hari saya ingin menyerahkan sebagian saham ke mereka, itu urusan terpisah. Tetapi profesionalisme adalah yang paling penting.

Kalau bicara soal industri pasar modal, Lippo terkenal sangat seksi. Bahkan ada hal yang sangat populer yakni kaya dan miskin bersama Lippo.

Artinya ikut dengan Lippo jangan cuma memikirkan trading-nya dalam arti jangan cuma trading in out dalam sebulan. Mestinya yang ikut dengan Lippo itu adalah mengikuti visi Lippo yaitu minimum 1 tahun. Saya kira filsafat Lippo itu adalah kami ingin selalu bertumbuh melalui partnership.

Jadi kami membangun kemitraan dengan semuanya, termasuk kemitraan dengan pasar modal. Jadi kami bertekad menjadikan pasar modal menjadi partner kami supaya mengembangkan yang lebih baik lagi.

Kita bisa melihat, setelah sekian tahun Matahari kini perform-nya sangat baik. Bisnisnya juga sangat kuat. Sekarang boleh dibilang tak ada utang. Sekarang juga Lippo Karawaci menjadi perusahaan properti terbesar. Mereka juga sekarang memiliki kekayaan US$3 miliar dan akan dikembangkan menjadi US$10 miliar dalam 5 tahun ke depan.

Mereka sekarang memiliki basis bisnis yang cukup bagus. Kami juga sekarang mengelola 25 mal di seluruh Indonesia di atas 2 juta m2.

Lalu juga masuk ke kesehatan, perhotelan. Masing-masing bisa leading di sektornya. Lalu Lippo juga masuk ke fund management. Mereka mengelola kurang lebih US$1 miliar dan akan ditingkatkan menjadi US$5 miliar dalam 5 tahun. Hotel juga akan dikembangkan. Rumah sakit dari empat menjadi 30. Mal dari 25 menjadi 50. Ini semua akan menghasilkan prestasi yang lebih baik. Saya yakin dengan pasar modal yang lebih stabil, lebih dewasa, akan mulai melihat perusahaan mana yang yang tidak berkompetisi dengan baik.

Termasuk pendidikan?

Pendidikan itu dijalankan dengan yayasan, dengan motivasi nonprofit dan bahkan setiap tahun kami pasok uang yang lebih banyak dari pendapatan kami itu.

Jika profit harus disalurkan kembali dengan beasiswa. Sekarang itu 20% dari semua kursi itu adalah beasiswa dan kita membangun sekolah-sekolah di kantong-kantong kemiskinan dan juga di desa-desa.

Tahun ini kami membuka empat sekolah baru, tahun depan 10 sekolah baru. Tahun ini termasuk dua sekolah di papua. Kami juga bangun semacam IKIP. Jadi pada saat pemerintah merubah IKIP menjadi universitas, kami balik mengembangkan IKIP karena itu yang dibutuhkan. Lalu kita bangun sekolah di desa supaya guru-guru bisa disalurkan ke desa-desa.

Dengan target properti menjadi US$10 miliar dalam 5 tahun ke depan, bagaimana proyeksi Anda terhadap industri properti?

Di negara barat, industri properti mereka kembangkan dengan begitu pesat tetapi industri atau sektor riil tidak bertumbuh untuk menyerap suplai ini, sehingga demand-nya tak ada. Ada gap antara suplai dan demand. Kalau lihat di Asia, justru ekonomi bertumbuh begitu pesat, masalahnya itu bukan di demand-nya tapi suplainya yang gak ada dan tidak punya infratruktur yang cukup.

Ada pesan untuk bangsa ini?

Sekarang adalah era Asia, khususnya era Indonesia. Kita perlu memiliki suatu self confidence yang disertai tekad untuk berinvestasi for the future, bukan saja transformasi fisik tapi juga transformasi sosial. Kita harus bersatu membangun bangsa.

Jadi dibutuhkan pemimpin yang cepat mengambil keputusan?

Saya kira pemimpin itu ada dua macam, satunya pemimpin yang transactional artinya sigap dalam mengatasi masalah, yang satunya pemimipin yang transformation. Yang pertama terkesan cepat tapi bisa salah arah, tapi pemimpin yang kedua terkesan pelan tetapi lebih terstruktur, lebih memiliki sruktur dan konsep.

Nah, SBY pemimpin yang transformasional, jadi kepada orang yang transactional, terkesan beliau ini lambat tapi bagi orang yang mengerti konsepsional, dia melihat banyak hal itu lebih tranformasional. Tetapi kembali lagi apa sih yang menjadi pemerintahan baik? Pemerintahan yang baik itu yang memiliki filsafat bahwa solusi terhadap semua masalah bangsa yaitu masalah ekonomi, masalah sosial, politik, solusinya bukan pemerintahan yang lebih besar karena yang lebih besar yang berisiko abusif, tetapi adalah pemerintahan yang lebih kecil yang punya konsep, yang memampukan bangsa atau rakyat mencari solusi sendiri tapi diberikan kemampuan itu.

Ada tiga pilar sebenarnya di dalam pemerintahan ini, demokrasi, rule of law, dan market. Soal demokrasi kita sudah mengetahui Indonesia ke arah sana. Dalam rule of law, lumayan dengan skalanya sampai 7 - 8. Soal market, masih banyak yang harus kita lancarkan supaya lebih jalan.
Read More...

| 0 comments ]


Menjaga masyarakat Indonesia agar sehat secara fisik, mental, dan sosial merupakan investasi yang harus dilakukan pemerintah di bidang kesehatan. Masyarakat Indonesia yang sehat senantiasa produktif dalam menggerakkan roda perekonomian negara.
Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah harus mulai dengan membuat anggaran kesehatan yang realistis untuk lebih dari 200 juta jiwa penduduk Indonesia dengan kondisi masalah kesehatan lokal yang berbeda satu sama lain. Kebijakan yang dibuat harus disesuaikan dengan situasi wilayah dan tidak bisa disamakan standarnya.


Hal ini diungkapkan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Bambang Wispriyono saat ditemui sebagai pembicara pada talkshow "Mengupas Tips & Trick dalam Dunia Media Relation serta Outlook Ekonomi, Kesejahteraan Sosial Masyarakat dan Public Relations" yang diselenggarakan oleh Humas Media Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di Jakarta hari ini.

"Masalah yang dihadapi kini adalah bagaimana mengoptimalisasi anggaran untuk program-program yang ada. Kejelasan peran pemerintah pusat dan daerah sangat penting agar tidak terjadi tumpang-tindih kewenangan yang justru menghambat jalannya program," tutur Bambang.

Terkait dengan investasi kesehatan masyarakat Indonesia, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, pemerintah sebaiknya merancang konsep yang disebut sebagai National Health Security System sebagai common platform dalam menangani berbagai masalah kesehatan.

"Selain itu, kita perlu tahu bagaimana konsep manusia sehat Indonesia yang sesungguhnya. Selama ini belum jelas balita, remaja, dewasa, dan manula yang dikategorikan sebagai pribadi Indonesia yang sehat. Hal ini penting karena selama ini pemerintah dan publik terlalu sibuk pada kasus kesehatan yang memunculkan polemik," ujar Firmanzah.

Firmanzah juga mengatakan program corporate social responsibility perusahaan juga perlu diarahkan ke bidang kesehatan, seperti penyediaan air bersih dan WC umum, penyuluhan tenaga kesehatan di daerah-daerah secara merata.
Read More...

| 0 comments ]


Dalam ajang Penghargaan Wirausaha Mandiri hari ini, Menko Perekonomian Hatta Rajasa memberikan tips/kunci menjadi wirausahawan sukses yang menekankan pada empat prinsip yang harus dipegang dan diperjuangkan. Di hadapan lebih dari 3.000 mahasiswa, Hatta menyampaikan tips utama untuk menjadi pengusaha sejati, keempat prinsip itu adalah pertama, untuk menjadi pengusaha yang sukses, harus dapat mengembangkan sikap wirausaha yang menampilkan sikap percaya diri sebagai modal utama untuk menjadi entrepreneur.

Kedua, pengusaha harus memiliki prinsip dan motivasi yang besar untuk mengubah keadaan agar semakin baik dan terus menjadi lebih baik.

Ketiga, harus berusaha dan memiliki kemampuan untuk dapat mengembangkan diri dengan memaksimalkan segala potensi yang dimiliki serta mengotimalkan seluruh networking yang terus diperluas.

Keempat, pengusaha sejati itu harus memiliki modal utama yang harus ditampilkan adalah semangat kerja keras yang pantang menyerah dan harus punya mimpi (cita-cita besar).

Hatta meyakinkan dengan pegangan dari 4 prinsip tersebut, Indonesia akan memiliki banyak sekali wirausaha yang tangguh dalam waktu 10 tahun ke depan.

Dia berjanji pemerintah akan terus berupaya untuk semakin memudahkan lingkungan bisnis agar semakin kondusif bagi pelaku usaha, salah satunya dia menjanjikan kemudahan akses terhadap permodalan/pinjaman bank tanpa dibebani agunan melalui kredit usaha rakyat (KUR).

Menurut dia, program KUR akan terus diperbesar untuk mendukung pembiayaan bagi usaha muda dan usaha baru agar semakin terus berkembang dengan baik.

“Pemerintah telah membangun iklim usaha yang kondusif. Yang dibutuhkan adalah wirausahawan yang dibentuk manajemen dan skill melalui inkubator,” ujarnya saat membuka Penghargaan Wirausaha Muda Mandiri.
Read More...

| 0 comments ]

Semua pasti ingin sukses dengan mencapai anak tangga teratas profesi masing-masing, tapi mengapa kadang perjalanannya terhambat? Cari tahu jawabannya dan pelajari triknya.

Kelewat serius mencurahkan perhatian pada orang yang lebih berprestasi atau ada faktor X yang menyebabkan orang lain lebih maju akan membuat kita frustrasi lalu menganggap bidang pekerjaan yang digeluti ini mustahil memberi sukses.

Tinggalkan pemikiran semacam itu karena memiliki 7 keterampilan berikut akan membawa kita menapaki puncak tangga karier.

1. Andal Berbicara
Kemampuan bicara dengan beragam individu merupakan tuntutan mutlak untuk meraih sukses.

Misalnya, kontak mata yang bersahabat, kosakata yang kaya dan kemampuan menyesuaikan bahasa yang kita gunakan dengan lawan bicara juga pegang peran.

Jadi, berlatihlah bicara santun dengan siapapun yang kita jumpai dalam keseharian atau ikut kelompok diskusi untuk mengasah kemampuan berdebat.

Rewards yang bakal kita dapatkan adalah lebih cakap dalam berbagai situasi sosial, piawai membangun jejaring kesuksesan, membantu dalam bekerja dalam kelompok pribadi.

2. Tidak Plin-Plan
Seorang pemimpin yang baik memiliki sikap tegas dan selalu menunjukkan sikap ini setiap kali ia dihadapkan pada persoalan yang menuntutnya membuat keputusan.

Apa pun keputusan yang dibuat memang akan menimbulkan pro dan kontra. Akan tetapi ingat, proses pengambilan keputusan akan membawa kita semakin dekat dengan kemampuan untuk menyelesaikan tantangan yang diberikan.

Kuncinya, pastikan bahwa keputusan yang kita ambil sudah dipikirkan secara matang dan ada alasan yang menyertainya.

3. Akuntabilitas
Bagian terpenting lainnya dalam meraih sukses adalah kesediaan menerima tanggung jawab, baik saat sukses maupun gagal.

Jika ini dilakukan, kita dianggap siap menerima tanggung jawab yang lebih besar dan menuai rasa hormat dari kolega karena kerendahan hati yang dimiliki.

Agar bisa meminimalkan kesalahan, perhitungkan segala kemungkinan dan segera mengambil langkah yang tepat guna memperbaiki kesalahan yang kita lakukan.

4. Tetap Positif
Dengan mengolah pandangan positif, kita justru akan memacu orang lain untuk sama-sama menunjukkan sikap positif sehingga lebih produktif dan mungkin saja semakin dipercaya untuk jabatan eksekutif.

Sikap positif sebetulnya mudah dan merupakan bentukan kita sendiri, kok. Yakni dengan menekankan hal-hal positif pada setiap situasi. Intinya, jangan lihat masalah, tapi lihatlah jalan keluarnya.

5. Presentasi Diri
Mempelajari bagaimana kiat mempresentasikan diri pada orang sangatlah penting.

Misalnya, berbusana rapi akan memberi imej sukses di mata orang lain sebelum kita mengatakan sepatah kata pun. Tak perlu mahal, tapi busana dengan kualitas jahitan berstandar tinggi mengindikasikan kalau dalam banyak hal pun kita memiliki standar tinggi dan ini yang membuat orang lain kagum memandang kita.

Seberapa besar kita memberi pengaruh kuat pada kolega, pimpinan atau klien akan melihat seberapa baik kita tampil di mata mereka. Memiliki gaya yang anggun untuk mendukung kesuksesan kita bukan sesuatu yang buruk, kok.

Jangan lupa, penampilan akan meningkatkan apa yang kita rasakan mengenai diri sendiri yang ujung-ujungnya akan membuat kita semakin percaya diri.

6. Kelola Waktu
Ketidakmampuan mengorganisir akan membuat kita kocar-kacir sehingga pencapaian di bawah target yang ditetapkan.

Untuk mengatasinya, belajarlah menuliskan segalanya secara rinci sehingga memungkinkan kita memastikan semuanya bisa dikerjakan sesuai ketersediaan waktu yang ada. Hasilnya, kita memiliki kualitas kerja yang lebih baik dan jangan kaget kalau ke depannya kita akan dipercaya mengemban tanggung jawab yang terus meningkat.

Mampu mengelola waktu bukan berarti kita tak punya waktu luang untuk diri sendiri, lho. Justru inilah faktor kunci kesuksesan kita mengerjakan segala seuatu secara tepat waktu dan lebih berkualitas.

Jangan menunda-nunda pekerjaan, tetapkan tujuan-tujuan yang menantang sekaligus realistis, dan manfaatkan waktu seefisien mungkin.

7. Mendeteksi Solusi
Akar dari suksesnya para pemimpin bisnis adalah kemampuan untuk menemukan solusi atas masalah besar. Kemampuan ini memang tidak terlihat nyata melainkan harus ditunjukkan ke orang lain.

Kalau kita dan kolega kita satu divisi sudah sedemikian disiplin, tak ada salahnya selalu mencari tahu apa yang paling jadi masalah.

Apakah itu berupa minimnya komunikasi di antara sesama staf, konflik seputar hak masing-masing pegawai, masalah teknis, atau sulitnya mengakses informasi. Cari kemudian bertindaklah. Jangan takut kerja ekstra bila memang berniat mencari solusi. Ingat, orang yang penuh semangat justru tertantang untuk menangani rintangan. Intinya, jangan sebatas puas pada rutinitas.
Read More...

| 0 comments ]


Apakah hidup Anda bersemangat? Puas dengan pilihan yang Anda ambil dalam kehidupan dan karier Anda?

Banyak orang beranggapan, gairah dan bekerja tidak dapat dicampur. Mereka bahkan berpikir, bekerja untuk hidup dan cari makan. Bukan bukan untuk memberi makan jiwa kita.

Jelas, pendapat tersebut keliru. Sebab, pada kenyataannya, gairah dan kehidupan adalah hal pokok yang harus diprrioritaskan. Dengan gairah, bakat Anda termotivasi. Gairah adalah suatu karunia dan yang terpenting gairah membuat Anda menjadi “siapa diri Anda”. Gairah Anda adalah kekuatan dan enerji Anda. Gairah merupakan bagian dari diri Anda yang memotivasi untuk melakukan apa yang ingin Anda lakukan.

Yang jadi masalah, banyak orang mengabaikan gairah mereka pada saat harus memilih dalam karier. Stres karena deadline dan bermacam-macam keadaan di kantor yang menimbulkan kekesalan, membuat kita mulai mengabaikan gairah. Tetapi, gairah murni tetap ada dalam diri Anda dan kadang memang harus digali dan diihidupkan lagi.
Caranya? Simak saja saran-saran berikut.

1. Cermin Masa Lalu

Salah satu cara yang paling bagus untuk mengidentifikasi gairah nyata Anda adalah dengan memikirkan hidup Anda, Terutama mengingat masa kanak-kanak dan mengidentifikasi hal-hal yang Anda sukai. Apa yang membuat Anda sangat gembira? Apa yang dapat Anda peroleh dengan mudah?

Coba, deh, ingat-ingat hal-hal yang Anda sukai waktu masa sekolah atau permainan favorit saat kecil. Jika gemar main boneka, mungkin Anda menyimpan bakat terpendam yang menunggu saat yang tepat untuk ditampilkan.

Begitu Anda dapat mengidentifikasi kegemaran Anda, maka Anda pun tahu bagaimana memanfaatkannya. Sebagai contoh, orang yang senang tampil dapat menemukan peluangnya dengan bekerja sebagai presenter, pembicara. Ingat, gairah kita terpampang di depan kita!

2. Identifikasi Impian

Jika ingin menggali gairah, Anda perlu mengidentifikasi “mimpi” Anda. Buatlah daftar hal-hal yang sangat ingin dilakukan, hal-hal yang kalau Anda lakukan tidak akan merugikan bagi Anda. Jelas, Anda harus berani menghadapi tantangan-tantangan. Mungkin Anda bermimpi menjadi penari terkenal. Dengan demikian, Anda akan termotivasi mengikuti kursus menari.

Jangan lupakan catatan daftar mimpi Anda dan jangan pernah berpikir “tidak mungkin” karena dengan mempunyai mimpi, Anda akan termotivasi untuk mewujudkan cita-cita Anda.

3. Cari Peluang

Coba ambil katalog kursus, lihat kursus apa yang ditawarkan dan beri tanda pada bagian yang menarik buat Anda. Beri kesempatan pada diri sendiri untuk mengikuti kursus yang Anda minati. Bila tertarik pada seni, ikuti kursus mengenai seni. Bila ingin jadi fotografer, ikuti kursus mengenai fotografi.

Lakukanlah sesuatu sesuai dengan minat Anda. Apakah itu menari, menyanyi, atau menulis. Anda harus berani melakukan dan mencoba sesuatu yang baru.

4. Bangun Dunia & Gaya Hidup

Setiap orang harus berani melakukan hal-hal yang memotivasi dirinya dan yang memberi ilham. Setiap manusia punya pembawaan sejak lahir, demikian juga halnya dengan gairah. Gairah merupakan suatu benih dari dalam diri kita.

Jika gairah ini tidak digali, maka bakat yang ada dalam diri kita tidak akan pernah tumbuh. Tetapi jika gairah digali dan dikembangkan di lingkungan yang sesuai, Anda akan sukses dan menjadi orang seperti yang Anda idam-idamkan.

Memang, perlu waktu untuk menggali gairah dan mengembangkannya. Yang diperlukan adalah kemauan untuk mengembangkannya. " Hidup ini bukanlah suatu latihan." Diri Anda sendirilah yang dapat membuat hidup Anda bahagia atau tidak.
Read More...

| 0 comments ]


Calon ibu sehat, bayi pun sehat. Begitu kira-kira kalimat yang menggambarkan pentingnya asupan berkualitas saat hamil.

Setiap wanita pasti menginginkan hadirnya seorang anak yang sehat dan cerdas. Sehat tidaknya bayi yang dilahirkan salah satunya dipengaruhi oleh asupan gizi calon ibu sebelum dan saat ia hamil. Maka, tak salah jika orang bilang, “Your baby is what you eat. ”

Bukan tanpa alasan jenis makanan sangat berpengaruh terhadap perkembangan janin. Kekurangan nutrisi bisa menyebabkan tumbuh kembang janin menjadi terhambat dan akan melahirkan bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram atau berat badan lahir rendah (BBLR). Padahal, berat badan bayi waktu lahir sangat penting bagi daya tahan fisiknya.

Menurut Dr. Peni Hedi P., MKM (Gz) , selama masa kehamilan, kebutuhan kalori dan protein wanita hamil akan meningkat. “Komposisinya, 60 persen karbohidrat, 15 persen protein, dan sisanya lemak.”

Seorang wanita hamil membutuhkan tambahan energi sebesar 280-300 kalori dari kalori harian wanita tidak hamil, dengan range usia 25-45 tahun.

“Atau, sebesar 2250 kalori per harinya. Jadi, penambahan berat badan wanita hamil 0,5 kg per minggu merupakan sesuatu yang normal dan akan berlangsung hingga pertengahan trimester ketiga,” katanya.

Protein dan Kalori

Wanita hamil dengan berat badan kurang akan membutuhkan penambahan kalori yang lebih besar.

Energi ini bisa diperoleh dari karbohidrat dan lemak yang merupakan sumber energi. Ekstra kalori juga dapat diperoleh dari bahan makanan seperti ikan, telur, daging, unggas, susu dan produk olahan susu. Makanan sumber karbohidrat bisa diperoleh dari nasi, kentang, jagung, roti, singkong dan sejenisnya, sementara lemak dari minyak santan, kacang-kacangan yang gurih, margarin dan sebagainya.

Selain kalori, protein juga sangat penting. Protein merupakan zat utama untuk membangun jaringan bagian tubuh. Seiring perkembangan dan pertumbuhan janin, kebutuhan protein pada waktu hamil pun meningkat. Kekurangan protein dalam makanan yang dikonsumsi seorang wanita hamil bisa berakibat bayi lahir lebih kecil dari normal. Kekurangan tersebut juga mengakibatkan pembentukan air susu ibu dalam masa laktasi kurang sempurna.

Sumber zat protein yang berkualitas tinggi misalnya susu. Susu merupakan minuman yang berkualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan wanita hamil terhadap zat gizi karena mengandung protein, kalsium, fosfor, vitamin A, serta vitamin BI dan B2. Sumber lain misalnya daging, ikan, unggas, telur, kacang-kacangan, tahu, tempe, dan sebagainya.

Wajib Sarapan

Lantas, pola makan seperti apa yang perlu diperhatikan selama masa kehamilan? “Pola makan wanita hamil sebetulnya tidak terlalu banyak berbeda dengan sebelum hamil, yaitu 3 kali makan utama, yaitu sarapan, makan siang, dan makan malam, disertai 2-3 kali snack time ,” jelas pendiri Prima Diet Catering ini melanjutkan.

Sarapan merupakan pola makan yang sangat penting. Sayangnya, lesu dan mual menyerang wanita hamil pada pagi hari. Ini disebabkan oleh menurunnya kadar gula pada pagi hari karena perut kosong berjam-jam. Jadi, hindari makanan yang mengandung asam (misalnya jeruk) dan makanan berlemak.

Peni melanjutkan, jenis makanan yang disarankan dan tidak disarankan sangat tergantung kondisi ibu hamil. “Yang penting, semua asupan gizi terpenuhi. Secara umum, ibu hamil sebaiknya menghindari makanan yang diawetkan, karena kandungan zat aditif yang ada di dalamnya bisa berbahaya bagi janin,” ujarnya.

Perlukah Susu Hamil?

Seringkali, wanita hamil menemui kesulitan memenuhi kebutuhan gizinya karena rasa mual yang kerap mendera.

Salah satu solusinya adalah dengan mengonsumsi susu hamil. "Susu hamil mengandung beberapa zat gizi yang dibutuhkan, seperti asam folat, FOS (frukto-oligosakarida), GOS (galakto-oligosakarida), kalsium, protein, lemak, dan sebagainya," kata Hersanti Sulistyaningrum S.Gz. Ada pula yang ditambahkan formula anti hiperemesis yang dapat mencegah terjadinya hiperemesis (mual dan muntah berlebih). Namun tentu saja, bukan berarti menggantikan makanan padatnya.

Susu hamil yang sudah difortifikasi (ditambahkan) dengan zat-zat tambahan ini sangat bermanfaat membantu memenuhi kebutuhan gizi ibu yang akan berpengaruh pada pertumbuhan janin. Folat sangat berguna dalam pembentukan organ janin. Kandungan FOS dan GOS membantu memperlancar pencernaan dan penyerapan (termasuk mengurangi sembelit yang terjadi pada ibu hamil). Selain itu FOS dan GOS juga membantu meningkatkan daya tahan tubuh secara alami.

Mitos Makanan Tak Baik

Air Es

Air dingin atau air es katanya bisa bikin bayi besar. Padahal mengonsumsi air dingin saat hamil tidak berhubungan dengan janin besar. Yang benar, ibu hamil disarankan mengurangi konsumsi air dingin berlebihan, karena dapat memperlambat proses pencernaan makanan. Pasalnya, tubuh mengeluarkan energi untuk membuat suhu air dingin sama dengan suhu tubuh. Akibatnya, zat gizi tidak seluruhnya disimpan dan diserap tubuh, namun ada yang terbuang untuk aktivitas penstabilan suhu tadi.

Durian

Buah durian disebut tidak baik bagi wanita hamil jika dikonsumsi terlalu banyak. Alasannya, buah durian yang mengandung alkohol dapat mengakibatkan berat badan lahir (bayi) rendah dan mempengaruhi psikis bayi. Jika ibu hamil banyak mengonsumsi makanan maupun meminum minuman beralkohol, peluang melahirkan anak yang temperamental semakin besar. Jadi, boleh saja makan durian, namun tidak dalam jumlah yang berlebihan.

Makanan Setengah Matang

Mengonsumsi makanan setengah matang, apalagi mentah, sangat tidak dianjurkan pada wanita hamil. Sebab pada makanan setengah matang, seperti telur dan daging merah, dikhawatirkan terdapat bakteri yang belum mati seperti salmonella, e.coli dan toksoplasma. Ketiga bakteri ini dapat masuk dan menembus plasenta serta menginfeksi janin, sehingga dapat menyebabkan keguguran serta kelainan pada janin.

Yang Boleh dan Tidak Boleh

Makanan yang sebaiknya dihindari selama kehamilan

Makanan berkalori tinggi yang mengandung banyak gula dan lemak, sehingga kurang mengandung zat gizi.

Minuman bersoda dan beralkohol.

Minuman dengan kadar kafein tinggi seperti kopi.

Makanan yang dimasak setengah matang atau sayuran mentah, karena potensi mikroba yang ada di dalamnya.

Camilan sehat bagi wanita hamil:
Buah-buahan
Cracker (jangan terlalu asin)
Yoghurt
Keju low fat
Roti gandum
Macaroni schotel/pastel pang­gang

Sumber : Nova

Read More...